Selasa, 11 Desember 2018

Direstui Jokowi Masuk MotoGP, Ini Rencana Manajer Sirkuit Sentul

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi didampingi Mantan Pebalap Nasional Tinton Suprapto dan putranya yang juga pebalap Ananda Mikhola meninjau Sirkuit Sentul, Bogor, 6 Maret 2018. Foto: Biro Pers Setpres

    Presiden Jokowi didampingi Mantan Pebalap Nasional Tinton Suprapto dan putranya yang juga pebalap Ananda Mikhola meninjau Sirkuit Sentul, Bogor, 6 Maret 2018. Foto: Biro Pers Setpres

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo alias Jokowi telah memberi restu agar Sirkuit Sentul, Bogor, Jawa Barat digunakan untuk perhelatan balap motor dunia, MotoGP. Langkah ini, dinilai sebagai pintu awal Sentul untuk berbagai ajang betaraf internasional lain. 
     
    Manajer Sirkuit Sentul, Ananda Mikola, menyatakan, restu Jokowi itu membuat investor siap turun tangan membangun ulang sirkuit yang telah berdiri sejak 1994 itu. Dalam kunjungannya ke sirkuit Sentul kemarin, Jokowi pun menegaskan pembiayaan untuk pembangunan ulang sirkuit ini akan dipegang oleh pihak swasta. 
     
    Selama ini, Ananda mengatakan para investor masih ragu karena wacana pembangunan sirkuit balap lain di Palembang, Sumatera Selatan, dan di Lombok, Nusa Tenggara Barat. "Mau tak mau investor juga akan yakin nih. Bahwa yang direstui dan dipercaya itu Sentul," kata Ananda saat dihubungi via sambungan telepon, Rabu, 7 Maret 2018.

    Baca: Jokowi Jajal Sirkuit Sentul, Restui Direnovasi untuk MotoGP 2021

     
    Ananda mengatakan wacana membangun sirkuit memang banyak dilakukan. Namun hingga saat ini, tak ada yang kongkrit untuk mulai melaksanakan pembangunan. Karena itu, ia menilai pemilihan Sirkuit Sentul merupakan hal yang sangat masuk akal.
     
    Apalagi eks pembalap Indonesia itu mengatakan Sentul merupakan sirkuit yang paling aktif menyelenggarakan event dari tahun ke tahun. "Hampir setiap minggu (ada event). Ada drag race, ada balapan mobil kejurnas, kejuaraan Asia, kejuaraan asia motor. Setahun itu bisa ada 38 event," kata Ananda.
     
    MotoGP di Indonesia sendiri ditargetkan baru akan digelar pada 2020 atau 2021. Di sisa waktu itu, Ananda Mikola mengatakan sirkuit Sentul akan mengalami pembangunan ulang besar-besaran. Mulai dari perbaikan lintasan hingga perombakan tribun penonton akan dilakukan. 
     
    Langkah awal yang akan dilakukan, menurut Ananda, adalah menghubungi investor. Mereka harus kembali diyakinkan agar mau mulai berinvestasi di Sentul. Kedua, komunikasi dengan promotor MotoGP harus dimulai kembali. Terakhir, adalah mulai menyusun program pembangunan ulang Sentul secara komperhensif. "Kita memang harus mulai dari nol," kata dia. 

    Baca: Sirkuit Sentul untuk MotoGP 2021, Jokowi: Semua Dana dari Swasta

     
    Untuk renovasi Sirkuit Sentul sendiri, Ananda mengatakan banyak hal yang harus dibenahi. Saat ini, kondisi Sentul memang masih banyak kekurangan. Untuk lintasan saja, untuk memenuhi standar dari MotoGP, harus ada penambahan panjang trek 400 meter. Hal ini, kata dia, akan membuat pola lintasan di Sirkuit Sentul akan sedikit berubah. 
     
    Ke depannya, Ananda mengatakan sirkuit ini bahkan bisa digunakan untuk event balap lain. MotoGP dipilih sebagai awalan karena dinilai paling memiliki nilai jual paling tinggi dibanding ajang balap lain. Tiga tim besar di MotoGP, Yamaha, Suzuki, dan Honda masing-masing memiliki pabrik di Indonesia.
     
    Antusiasme masyarakat terhadap olahraga ini juga tergolong tinggi. "Hiburannya mengena ke seluruh elemen. Dari mulai direktur bank, pelajar, kelas menengah ke bawah, pasti mengidolakan Valentino Rossi atau Marc Marquez. Lebih menjual," kata anak dari mantan pembalap Tinton Suprapto itu. 
     
    Selama ini, sirkuit terdekat yang mampu menyelenggarakan MotoGP ada di Malaysia. Alhasil banyak warga Indonesia yang sengaja berangkat ke Negeri Jiran hanya untuk menonton idolanya bertanding. Ananda percaya dengan adanya MotoGP di Sentul, masyarakat akan lebih memilih datang ke Bogor. 
     

     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Peringkat Indonesia dalam Indeks Persepsi Korupsi 1995 - 2017

    Sejak kehadiran KPK pada 2002, skor Indeks Persepsi Korupsi Indonesia hingga 2017 menanjak 18 poin yang berarti ada di peringkat 96 dari 180 negara.