Minggu, 18 November 2018

Stadion Madya: Dari Ajang Greyhound Jadi Stadion Atletik PASI

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nachrawi, melakukan pengecekan lintasan lari ketika berkunjung ke cabang olahraga atletik di Stadion Madya Senayan, Jakarta, 30 Oktober 2014. Imam Nachrawi meninjau beberapa pusat pelatihan cabang olah raga untuk menghadapi Asian Games 2018. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nachrawi, melakukan pengecekan lintasan lari ketika berkunjung ke cabang olahraga atletik di Stadion Madya Senayan, Jakarta, 30 Oktober 2014. Imam Nachrawi meninjau beberapa pusat pelatihan cabang olah raga untuk menghadapi Asian Games 2018. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta- Pemusatan latihan nasional (pelatnas) Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI) telah kembali dipusatkan di Stadion Madya, di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, pada Selasa, 13 Maret 2018.

    Baca: Asian Games 2018: Pelatnas Atletik Kembali ke Stadion Madya

    Pada latihan perdana atlet yang berlangsung sejak pukul 15.00 pada hari tersebut, Sekretaris Jenderal PB PASI, Tigor M. Tanjung, mengatakan sejarah singkat berdirinya stadion tersebut. Dulunya tempat itu adalah gelanggang lomba balap anjing jenis greyhound. "Mengubah Stadion Madya Senayan dari tempat adu balap anjing menjadi tempat balap manusia," kata Tigor kepada Tempo, Selasa, 13 Maret 2018.

    Tigor mengatakan dulu sebelum menjadi stadion khusus atletik, tempat tersebut adalah arena judi balap anjing. Penonton yang memiliki nomor karcis sesuai nomor anjing pemenang berhak menerima hadiah.

    Pada tahun 1983, kata Tigor, Ketua Umum PB PASI, Mohamad Bob Hasan, meminta kepada Presiden Indonesia saat itu, Suharto, untuk membangun stadion atletik pertama di Indonesia. "Waktu saya masih menjadi arsitek," ujar Tigor.

    Bob berujar, saat masih menjadi arena lomba balap anjing, tempat itu dikelola oleh Sofjan Wanandi. Tahun berikutnya, pembangunan untuk menjadikan tempat tersebut menjadi stadion atletik dimulai.

    Selanjutnya, kata Tigor, tahun 1985, Indonesia menjadi rumah rumah kejuaraan atletik internasional dengan menggunakan stadion tersebut untuk pertama kalinya. "Bangkai tulang-tulang anjing masih ada," ujar Tigor.

    Bob menambahkan, pertandingan berlangsung meriah dan banyak penonton dari usia sekolah. Lebih lanjut, kata Bob, hasil pertandingan pun tak kalah memuaskan saat itu.

    Saat ini, tak hanya atlet yang akan terjun di Asian Games 2018 yang berlatih di Stadion Madya Senayan, tapi semua atlet pelatnas dari tingkat remaja, junior, dan senior berlatih bersama.

    Sebelumnya, PB PASI telah mengajukan permohonan resmi ke Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), Imam Nahrawi, dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) serta Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPK GBK) agar bisa kembali ke stadion tersebut.

    Sebanyak 16 atlet tim nasional (timnas) atletik Indonesia, yang teridiri dari empat putra dan putri tengah menjalani pemusatan latihan nasional (pelatnas) menjelang ajang Asian Games 2018.

    Baca juga: Asian Games 2018: Indonesia Dilatih Pep Guardiola Atletik Dunia

    Sebelumnya, 16 atlet tersebut menjalani pelatnas di lima lokasi yang berbeda. Untuk nomor-nomor lari jarak dekat (di bawah 3 ribu meter), pelatnas digelar di Stadion Pakansari, Bogor. Sedangkan untuk nomor-nomor lari jarak jauh (di atas 3 ribu meter), pelatnas digelar di Wisma Malabar, Pengalengan, Kabupaten Bandung.

    Adapun untuk nomor-nomor lari gawang dan sapta lomba, pelatnas digelar di Stadion Rawamangun, Jakarta. Untuk nomor-nomor tolak peluru, pelatnas digelar di Stadion Pajajaran, Bandung. Sedangkan di Bali, ada pelatnas atletik untuk nomor-nomor lompat jauh.

    "Tapi, atlet-atlet lari jarak jauh masih tetap berlatih di Pengalengan, Bandung. Begitu pula dengan Eki Febri yang berlatih di Bandung karena pekerjaan dia dan Maria Londa tetap berada di Bali," ujar Tigor.

    Enam belas atlet atletik pelatnas Asian Games 2018 yaitu:

    1. Atjong Tio Purwanto
    2. Bayu Kartanegara
    3. Eki Febri Ekawati
    4. Eko Rimbawan
    5. Emilia Nova
    6. Fadlin Ahmad
    7. Idan Fauzan Richsan
    8. Lalu Muhammad Zohri
    9. Maria Natalia Londa
    10. Rio Maholtra
    11. Sapwaturrahman
    12. Suwandi Wijaya
    13. Yaspi Boby
    14. Triyaningsih
    15. Agus Prayogo
    16. Hendro

    JENNY WIRAHADI


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.