Bulu Tangkis Jepang Maju Pesat, Alan Budikusuma Ungkap Kuncinya

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Alan Budikusuma. ANTARA/Andika Wahyu

    Alan Budikusuma. ANTARA/Andika Wahyu

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Mantan atlet bulu tangkis nasional, Alan Budikusuma, mengungkapkan Jepang memiliki cara sendiri untuk menggembleng para atletnya sehingga kerap menjuarai turnamen kelas dunia seperti All England. "Klub bulu tangkis di Jepang rata-rata dimiliki perusahaan besar, tidak seperti kita yang lebih banyak dimiliki perorangan yang ingin membuat klub," ujar Alan di Yogyakarta, Senin, 23 April 2018.

    Ketika klub itu ditopang perusahaan besar yang finansialnya seperti tak terbatas, para atlet bulu tangkis di Jepang ini pun makin mendapat dukungan untuk memaksimalkan potensi mereka. "Effort mereka (Jepang) untuk mendidik atlet enggak main-main," ujarnya.

    Baca: Bulu Tangkis Asia: Tontowi/Liliyana Lolos, Praveen/Melati Kandas

    Alan mencontohkan sebuah bank terbesar di Jepang memiliki klub bulu tangkis. Klub ini membina atlet sejak usianya masih kecil. Kemudian, ketika sang atlet beranjak besar dan dewasa, ia direkrut menjadi karyawan bank itu.

    "Mereka (calon atlet) itu diberi status karyawan, tapi hari-harinya kerjaannya berlatih seperti atlet. Sepekan bisa tujuh kali latihan," ujar suami Susy Susanti itu.

    Alan menuturkan Jepang berpandangan tidak mungkin seorang atlet profesional akan mengisi hari-harinya dengan bekerja kantoran seperti karyawan lain. Seperti yang masih terjadi di Indonesia, di mana atlet yang merangkap karyawan berlatih di sela kesibukan kerjanya.

    Baca: Bulu Tangkis: Greysia/Apriyani Punya Pekerjaan Rumah

    Menurut Alan, sebuah klub bulu tangkis terkemuka di Jepang, Unisis, yang dimiliki sebuah perusahaan besar, memiliki cara luar biasa menggembleng para atletnya agar siap tampil pada kejuaraan dunia. "Klub itu rutin mendatangkan atlet berprestasi dari berbagai negara hanya demi menjadi sparring atletnya," katanya.

    Seperti peraih medali emas Olimpiade tahun 2000 yang merupakan pebulu tangkis top Indonesia, Candra Wijaya serta Hendra Setiawan. "Candra dan Hendra ini dikontrak satu tahun oleh Unisis untuk melatih dan menjadi sparring atlet mereka," ucap Alan.

    Dengan model penggemblengan seperti itu, ujar Alan, tak perlu disangsikan kalau Jepang menjadi rajanya All England.

    Baca: Bulu Tangkis Indonesia Open 2018 Akan Pakai Aturan Servis Baru

    Sepanjang sejarah All England, wakil dari Jepang sudah 14 kali tampil menjadi juara. Khususnya di nomor tunggal putri dan ganda putri. Namun, pada kejuaraan bulu tangkis All England 2018 ini, Jepang mencetak sejarah juara baru dari nomor ganda campuran.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penggerogotan Komisi Antirasuah, Isu 75 Pegawai KPK Gagal Tes Wawasan Kebangsaan

    Tersebar isu 75 pegawai senior KPK terancam pemecatan lantaran gagal Tes Wawasan Kebangsaan. Sejumlah pihak menilai tes itu akal-akalan.