PT Kereta Api Dituntut Perbarui Sarana

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO Interaktif, Jakarta: Direktur Teknik PT Kereta Api Darmawan Daud menyatakan bahwa perusahaannya dituntut untuk mempercepat peremajaan kereta yang beroperasi. Kini, mayoritas sarana kereta sudah mencapai usia tua. Sarana itu mencakup lokomotif, kereta rel listrik (KRL), serta gerbong kereta penumpang.Menurut Darmawan Daud, sebanyak 211 lokomotif atau 46 persen dari total lokomotif berumur di atas 20 tahun. Bahkan, 109 lokomotif di antaranya harus diganti dan 242 unit harus overhaul. Adapun sebanyak 82 KRL atau 21 persen perlu diganti, sedangkan 600 unit kereta penumpang (45 persen) perlu diganti. "Kalau tidak (dilaksanakan) dampaknya luas," kata Darmawan dalams ebuah diskusi tentang kereta api di Jakarta kemarin. Ia menjelaskan, usia layan yang sangat tinggi akibat terlalu lama dipakai mengakibatkan biaya tinggi dalam pengoperasian sarana kereta. Persyaratan teknis yang dipenuhi juga masih minimal. "Baru tahap aman," ujarnya. Dampak lainnya adalah frekuensi gangguan tinggi, kinerja operasi terbatas, dan pelayanan terbatas. Sarana kereta yang tua masih banyak yang dipertahankan karena keterbatasan dana. "Investasi rendah, penerimaan rendah, ini lingkaran yang perlu kami putus," ucap Darmawan. Program pengadaan sarana sudah mulai dirintis dengan bekerjasama dengan PT Industri Kereta Api (Inka) di Bandung. Direktur Utama PT Kereta Api Ronny Wahyudi memaparkan bahwa dari total kereta yang ada, 68 persen di antaranya berusia 40 tahun ke bawah. Sisanya 40 tahun ke atas. Itu sebabnya, PT Kereta Api mengusulkan skrapping kereta yang usianya di atas 40 tahun yang banyaknya mencapai 260 unit. Untuk tahap pertama pada tahun 2007, sebanyak 57 kereta masuk program itu.Harun Mahbub

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?