Rabu, 12 Desember 2018

Susy Susanti: Atlet Bulu Tangkis Berubah Setelah Asian Games 2018

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting, melakukan servis ke arah lawannya, pebulu tangkis Cina, Lin Dan, pada turnamen China Open 2018 di Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium, Changzhou, Cina, Selasa, 18 September 2018. Setelah berhasil mengalahkan Lin Dan, Ginting lolos ke babak kedua China Open 2018. ANTARA FOTO/HO/Humas PBSI

    Pebulu tangkis tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting, melakukan servis ke arah lawannya, pebulu tangkis Cina, Lin Dan, pada turnamen China Open 2018 di Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium, Changzhou, Cina, Selasa, 18 September 2018. Setelah berhasil mengalahkan Lin Dan, Ginting lolos ke babak kedua China Open 2018. ANTARA FOTO/HO/Humas PBSI

    TEMPO.CO, Jakarta - Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) menyatakan perhelatan Asian Games 2018 memberi momentum positif bagi atlet. Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI, Susy Susanti mengatakan, semangat dan rasa percaya diri para atlet yang tampil di tiga seri utama September ini meningkat.

    "Ada perubahan yang besar dan mengubah mind set atlet bahwa mereka bisa (tampil optimal)," kata Susi di Jakarta, Senin, 1 Oktober 2018.

    Susy menjelaskan di Asian Games ada harapan dan target yang tinggi bagi atlet bulu tangkis untuk bisa menyumbangkan medali. Target itu secara tidak langsung membuat mental para pemain muda diuji. Usai bermain positif di Asian Games dan lepas dari beban yang tinggi, lanjut dia, keyakinan para pemain terus berlanjut di kejuaraan super series, seperti Daihatsu Yonex Japan Open, Victor China Open, dan Victor Korea Open.

    Dari tiga super series itu tim Indonesia sukses membawa dua trofi. Trofi pertama datang dari ganda putra Marcus Fernaldi Gideon/Kevin Sanjaya Sukamuljo, yang juara di Jepang Open. Piala kedua disumbangkan pemain tunggal putra Anthony Ginting yang juara di China Open.

    Susy menilai permainan tunggal putra cukup meyakinkan, khususnya Anthony Ginting. Penampilan di Asian Games, menurut dia, memberikan motivasi dan pelajaran berharga bagi Anthony. Ia mengatakan Anthony mulai memasuki masa kematangan bermain. "Dia sudah melewati masa second wind, yaitu dimana kekuatan atlet sudah mentok tapi bisa dilewati," kata dia.

    Sementara untuk Jonatan Christie, kata Susy, masih perlu bekerja lebih keras lagi. Peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 itu mengatakan aspek konsistensi harus menjadi perhatian Jonatan. "Sebagai juara Asian Games tentu banyak lawan yang ingin mengalahkannya," ucapnya.

    Ke depan, Susy Susanti menyatakan, para pemain diminta lebih fokus lagi. Pasalnya, perhelatan Olimpiade 2020 tinggal menyisakan kurang dari dua tahun. Susi berharap para pemain bisa memperbaiki rangking agar proses menuju Olimpiade Tokyo bisa lebih mudah.

    ADITYA BUDIMAN


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Avengers End Game, Para Jagoan yang Selamat Menuju Laga Akhir

    Sejumlah jagoan yang selamat dari pemusnahan Thanos di Infinity War akan berlaga di pertarungan akhir di Avengers Infinity War.