Gempa Palu Donggala, Tiga Anggota FPTI Ikut Menjadi Korban

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kejuaraan Panjat Tebing Indonesia Tingkat Nasional di Plaza Festival, Kuningan, Jakarta, (22/12) ini diselenggarakan oleh Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) DKI Jakarta dan Sirih Besar. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Kejuaraan Panjat Tebing Indonesia Tingkat Nasional di Plaza Festival, Kuningan, Jakarta, (22/12) ini diselenggarakan oleh Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) DKI Jakarta dan Sirih Besar. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Gempa Palu Donggala juga membuat duka keluarga besar Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI). Pasalnya, tiga anggota FPTI ikut menjadi korban bencana gempa dan tsunamia itu yang terjadi akhir pekan lalu.

    Baca: Panjat Tebing Indonesia Berprestasi, 4 Negara Ingin Ikut Latihan

    “Ada tiga orang keluarga besar FPTI ikut menjadi korban bencana itu, dua meninggal dunia dan satu orang masih hilang,” ujar Juru Bicara FPTI Teguh Supriyadi kepada Tempo Kamis 4 Oktober 2018.

    Ketiga keluarga besar FPTI itu yakni Roiman, salah satu atlet panjat tebing asal asal Kabupaten Parigimoutong Sulawesi Tengah, yang ditemukan meninggal dunia. Roiman merupakan salah satu atlet muda panjat tebing yang kerap berlaga di tingkat nasional.

    Korban kedua dari keluarga FPTI yang meninggal dunia yakni Franky Kowaas . Frangky dalam keluarga FPTI dikenal sebagai tokoh senior panjat tebing sekaligus Penasehat FPTI Pengurus Provinsi Sulawesi Utara. Franky juga aktif di olahraga aero sports.

    “Saat bencana terjadi Frangky dikabarkan sedang menghadiri acara Palu Nomoni,” ujarnya. Teguh menuturkan, Frangky semasa hidup merupakan pelatih dari mantan atlet sekaligus panjat tebing Judistiro kala muda. Judistiro sendiri pelatih tim combined saat Asian Games 2018 lalu.

    Sedangkan satu keluarga FPTI lain yang jadi korban bencana dan masih hilang atau belum ditemukan yakni Sekretaris FPTI Pengurus Kota (Pengkot) Palu, Fadhil. “Fadhil belum ditemukan sejak bencana itu terjadi,” ujarnya.

    Teguh menuturkan, selain ketiga orang itu, duka juga dirasakan atlet panjat tebing Asian Games, Aspar Jaeololo, yang juga suami dari atlet panjat tebing Mudji Mulyani. “Kedua orang tua Aspar dan Mudji selamat, namun paman dan tantenya menjadi korban bencana itu,” ujarnya.

    Menghadapi bencana di Palu–Donggala itu, Pengurus Pusat FPTI telah ikut mengirimkan tim untuk membantu Tim SAR dan pemerintah memberikan bantuan darurat.

    Baca: Atlet Panjat Tebing Asian Games 2018 Sudah Capai Rekor Dunia

    Salah satu pengurus pusat yang telah berangkat menuju Palu yakni Pristiawan Buntoro yang juga manajer kompetisi panjat tebing di Asian Games 2018. Pristiawan ikut serta dalam Tim dari Yogyakarta.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Atlet E-Sport, Jadi Miliarder Berkat Hobi Bermain Video Game

    Dunia permainan digital sudah bukan tidak bisa dipandang sebelah mata. Kini, para atlet e-sport mampu meraup miliar rupiah hasil keterampilan mereka.