Unik, Dua Ni Nengah Widiasih Sama-sama Meraih Medali Para Games

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ni Nengah Widiasih (kanan) berjabat tangan dengan Wakil Ketua Umum INAPGOC, Sylviana Murni, seusai menerima medali perak Women's Up to 41 kg Group A para powerlifting Asian Para Games 2018 di Balai Sudirman, Jakarta, Ahad, 7 Oktober 2018. Medali emas diraih Atlet Cina Cui Zhe dan medali perunggu diraih Atlet Suriah Noura Baddour. ANTARA/Rivan Awal Lingga

    Ni Nengah Widiasih (kanan) berjabat tangan dengan Wakil Ketua Umum INAPGOC, Sylviana Murni, seusai menerima medali perak Women's Up to 41 kg Group A para powerlifting Asian Para Games 2018 di Balai Sudirman, Jakarta, Ahad, 7 Oktober 2018. Medali emas diraih Atlet Cina Cui Zhe dan medali perunggu diraih Atlet Suriah Noura Baddour. ANTARA/Rivan Awal Lingga

    TEMPO.CO, Jakarta - Ni Nengah Widiasih pada 7 Oktober 2018 berhasil mendapat medali perak Asian Para Games 2018 di kelas 41 kilogram. Namun pada Kamis, 11 Oktober 2018, Ni Nengah Widiasih  juga berhasil meraih medali perunggu di angkat berat kelas 86 kilogram putri.

    Bagaimana Ni Nengah Widiasih bisa meraih medali di kelas yang berbeda dalam satu kompetisi?

    Ternyata bukan karena  Ni Nengah terlalu banyak menenggak suplemen asupan makanan, sehingga berat badannya naik dua kali lipat dalam empat hari. Tetapi memang ada dua Ni Nengah Widiasih yang berlaga dalam angkat berat Asian Para Games 2018 ini.

    Sriyanti (kiri) dan Ni Nengah Widiasih (kanan) mereka masing-masing meraih medali perak cabang olah raga angkat berat katergori puteri di atas 86 kilogram dan perunggu kategori 86 kilogram Asian Para Games 2018 di Balai Sudirman, Tebet, Jakarta Selatan, Kamis, 11 Oktober 2018. TEMPO/KHORY

    Selain nama mereka yang sama persis, uniknya banyak kesamaan lain antara kedua atlet ini. Mereka berdua sama-sama berasal dari Bali, mereka pun mencintai cabang olahraga yang sama, angkat berat. Keduanya pun sama-sama berhasil meraih medali di Asian Para Games 2018.

    Namun secara rupa dan usia ternyata perbedaan mereka cukup jauh. Ni Nengah yang berlaga di kelas 41 kilogram ini berperawakan jauh lebih kecil, karena memang bobot keduanya terpaut sangat jauh. Ia memiliki tahi lalat di dagu kanannya, dan kulitnya lebih gelap dibanding Ni Nengah satunya.

    Adapun Ni Nengah kelas 86 kilogram berperawakan lebih besar, dan memiliki kulit yang lebih terang. Perbedaan usia mereka pun ternyata cukup jauh, berselisih 10 tahun. Ia, lahir pada 5 Januari 1980, dan kini berusia 38 tahun sedangkan Ni Nengah lainnya berusia 28 tahun, lahir pada 12 Desember 1990.

    Ni Nengah pertama berhasil menyabet medali perak melalui angkatannya yang pertama, sekaligus terbaiknya 97 kilogram. Ia kalah dari Cui Zhe asal Cina yang berhasil mengangkat 100 kilogram.

    Ni Nengah Widiasih kedua harus puas dengan perunggu Asian Games 2018 setelah mengangkat beban 95 kilogram. Ia kalah dari atlet Korea Youngsun Lee yang mengangkat beban 107 kilogram dan atlet asal Cina Feifei Zheng yang berhasil mengangkat beban 135 kilogram.

    FIKRI ARIGI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?