Panjat Tebing: FPTI Latih Gladian Nasional Pecinta Alam

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Altet panjat tebing Indonesia, Aspar Jaelolo, berteriak setelah menyelesaikan final <i>speed relay</i> putra Asian Games 2018 di Arena Panjat Tebing Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan, Senin, 27 Agustus 2018. ANTARA/INASGOC/Hendra Nurdiyansyah

    Altet panjat tebing Indonesia, Aspar Jaelolo, berteriak setelah menyelesaikan final speed relay putra Asian Games 2018 di Arena Panjat Tebing Jakabaring Sport City, Palembang, Sumatera Selatan, Senin, 27 Agustus 2018. ANTARA/INASGOC/Hendra Nurdiyansyah

    TEMPO.CO, Yogyakarta- Pengurus Pusat Federasi Panjat Tebing Indonesia (PP FPTI) turut terlibat untuk melatih dalam perhelatan Gladian Nasional (Gladnas) Pecinta Alam XIV yang dipusatkan di Kawasan Karst Lembah Harau Payakumbuh, Sumatera Barat.

    Baca: Panjat Tebing: Aspar Jaelolo-Aries Susanti Juara Dunia di Cina

    Acara yang melibatkan para mahasiswa pecinta alam (Mapala) dari berbagai universitas di Indonesia ini digelar pada 22-28 Oktober 2018. Total ada 188 peserta dari 24 provinsi di Indonesia.

    PP FPTI sendiri dalam kegiatan ini menugaskan Kepala Bidang Panjat Tebing Alam dan Ekspedisi, Setyo Dibo, untuk mengisi materi panjat tebing. Total ada 30 peserta yang memilih divisi panjat.

    Setyo dan tim FPTI memberikan materi dasar pemanjatan yang aman dan sesuai prosedur. Dari teknik dasar panjat tebing, pengenalan alat, pemahaman simpul, hingga teknik dan cara mem-belay, harus dikuasai oleh peserta.

    “Setelah mendapat materi panjat tebing itu peserta akan memanjat tebing ke atas, memasang pengaman yang sudah ada di situ, berupa hanger. Jadi di situ praktik memasang tali dan teknik pemanjatan diasah,” ujar Setyo, Selasa, 23 Oktober 2018h.

    Kemudian pada hari berikutnya, para peserta mulai praktik memasang artificial anchor (pengaman artifisial). Mereka harus mampu memilih alat yang akan digunakan untuk memanjat sesuai karakteristik jalur yang dihadapi.

    “Penguasaan materi dasar ini penting sebagai bekal para pegiat alam bebas dalam memanjat tebing alam,” ujarnya. Terlebih, ujar Setyo, dalam praktiknya setiap tebing memiliki ciri khas tersendiri sehingga perlakuannya pun berbeda.

    Total ada 6 divisi yang terlibat dalam ‘latihan akbar’-nya para pegiat alam bebas tersebut, yakni gunung hutan (mountaineering), panjat tebing (rock climbing), susur gua (caving), arung jeram (rafting), diving, dan paralayang (paragliding).

    Kegiatan itu sendiri dimulai dengan upacara pembukaan yang digelar di Lembah Harau pada Senin, 22 Oktober petang, semua peserta diarahkan menuju lokasi masing-masing divisi yang tersebar di berbagai daerah. Khusus untuk panjat tebing dan paralayang tetap di Lembah Harau.

    Setyo berharap materi yang akan diperoleh selama Gladian Nasional ini dapat diterapkan di organisasi masing-masing sebagai bekal aman dalam melakukan panjat tebing. Mengingat panjat tebing tergolong olahraga ekstrem yang sangat berbahaya bila tidak dibekali dengan pengetahuan mumpuni.

    Baca: Menuju Olimpiade Tokyo 2020, Panjat Tebing Raih 2 Emas di Cina

    “Jadi ini fokus ke basic agar ke depannya bisa dipraktikkan di organisasi mereka. Kalau kita mau memanjat tinggi, selama basic-nya tahu, tidak masalah,” kata Setyo.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.