Minggu, 18 November 2018

World Aquathon Day 2018: Akuarobik Indonesia Mendapat Pujian

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Instruktur akuarobik Dotty Widowati  sedang melatih murid di WET Indonesia, Jakarta. (foto:istimewa)

    Instruktur akuarobik Dotty Widowati sedang melatih murid di WET Indonesia, Jakarta. (foto:istimewa)

    TEMPO.CO, Jakarta - Menjelang World Aquathon Day 2108 yang berlangsung serentak di seluruh dunia pada 10 November, Water Exercise Training (WET) Indonesia, klub aerobik air—atau akuarobik—yang berbasis di Jakarta, mendapat pujian dari Rose Hartzenberg, tokoh maraton air dunia. WET dinilai berhasil menghadirkan secara signifikan generasi termuda Indonesia di dunia akuarobik sepanjang 2018.

    Hartzenberg, penggagas World Aquathon asal Afrika Selatan, mengaku mengikuti aktivitas WET Indonesia melalui sejumlah publikasi situs wet.id. “Ya, saya mengikuti aktivitas (WET Indonesia), mengamati postingan foto-foto latihan anak-anak bersama orang tua mereka di kolam renang,” kata Hartzenberg dari East London, Afrika Selatan, seperti termuat dalam rilis.

    Damiana Dotty Widowati, 51 tahun, pendiri WET Indonesia dan instruktur akuarobik internasional, menyatakan ketahanan kesehatan (health security) suatu bangsa perlu dibangun dari basis keluarga. “Membangun kesehatan anak melalui media air membawa sinergi tiga kekuatan sekaligus: fisik, mental, energi,” ujar peraih Fitness Best Roar Asia Award 2018 ini. “Keluarga sehat niscaya menciptakan masyarakat sehat serta bangsa yang kuat,” dia menegaskan.

    Hal ini pula yang membuat WET Indonesia memilih merayakan World Aquathon Day 2018 dengan menyiapkan silabus akuarobik Indonesia dengan penekanan utama dari hulu hidup manusia: bayi dan anak-anak. “Kami ingin lebih aktif mempromosikan pendekatan kuratif—ketimbang preventif—sejak usia dini melalui media air,” kata Dotty.

    Bersama praktisi kebugaran Nano Oerip serta psikolog anak dan pendidikan Tari Sandjojo, Dotty merancang serangkaian diskusi bertema “Raising Children with Aquatic Intelligence” sejak Oktober lalu. “Diskusi bersama komunitas keluarga akuarobik kembali kami gelar pada 10 November sebagai bagian dari perayaan World Aquathon Day 2018,” ujar Dotty. WET Indonesia adalah perwakilan resmi maraton air dunia di Indonesia sejak 2015.

    Dalam dua tahun terakhir, WET Indonesia mengembangkan pendekatan baru pelatihan aerobik anak-anak dan balita melalui media air, yakni, “Setiap bayi dan anak harus turut ‘membuat keputusan’ atas suatu latihan, bukan hanya menuruti kehendak orang tua atau pelatih,” kata Dotty.

    Caranya? Di kolam renang, mereka diundang bersentuhan, menikmati air, bermain-main sebelum secara bertahap masuk ke kolam renang. “Ini fundamen yang akan menentukan perjalanan seorang anak di air serta membangun hubungannya dengan seluruh rezim latihan,” ujar pendiri WET Indonesia ini.

    Psikolog Tari Sandjojo, 44 tahun, Direktur Akademik Sekolah Cikal, Jakarta, mengatakan model pendekatan ini memberikan kesempatan sejak dini pada anak untuk mengembangkan keterampilan regulasi diri: suatu keterampilan buat mendengarkan kebutuhan diri/tubuhnya untuk kemudian melakukan aksi buat memenuhi kebutuhan tersebut. “Hal ini amat penting di tengah pola asuh orang tua yang cenderung penuh kontrol,” ujar Tari.

    Media air, kata Tari, tak punya restriksi terhadap gerak tubuh manusia. Hal ini membuat manusia cenderung lebih bebas bergerak. Selain itu, air adalah media pertama anak di dalam rahim—sehingga menjadi media belajar yang ramah anak. Karena satu dan lain hal, media air terutama di kolam renang menjadi ”situasi belajar" yang menantang. Namun, “Jika anak mampu mengatasi kecemasan belajar di air, dia akan bisa mengatasi situasi sulit di kemudian hari,” Tari menambahkan.

    Nano Oerip, 40 tahun, praktisi kebugaran dan wellness, meletakkan unsur tantangan membangun kesehatan dari hulu ke hilir sejak usia dini. Dengan 15 tahun pengalaman di industri kebugaran, Nano—pelari jarak-jauh yang persisten—melihat perkembangan otak melalui gerakan motorik serta emosi anak bisa dibangun bersama dalam media air.

    Dia mencontohkan, pada masa lalu, bermain bersama teman adalah aktivitas yang melibatkan seluruh otot tubuh seraya menumbuhkan hubungan sosial-emosional anak. “Ini berbeda dengan pola bermain pada industri keempat sekarang, yang didominasi teknologi,” kata Nano. Akibatnya, “Perkembangan otak dan otot melambat dan tubuh lebih rentan terhadap risiko penyakit,” ujar alumnus Slippery Rock University, Pennsylvania, Amerika Serikat, ini.

    Pelari dalam sejumlah maraton internasional ini mengingatkan, ketahanan otot tubuh tak pernah dibangun secara instan. “Dimulai dari langkah-langkah kecil, aktivitas mengolah kekuatan otot tubuh harus merupakan ‘misi berkelanjutan’.” Itu sebabnya, Nano amat mendukung kerja WET Indonesia—yang giat mengembangkan kecerdasan akuatik serta kemampuan motorik manusia sedari usia dini.

    Jumlah peserta usia dini di kolam WET Indonesia memang menunjukkan kenaikan amat signifikan dalam setahun terakhir. “Kami mulai mungkin dengan 10-15 anak pada 2017, kini sudah hampir 200 bayi dan anak hadir di kolam WET,” kata Dotty.

    Fakta ini amat menggembirakan Rose Hartzenberg, yang tak pernah lelah mendorong pertumbuhan akuarobik di seluruh dunia. Sekitar 80 negara dan 233 instruktur internasional akan merayakan World Aquathon Day pada 10 November 2018.

    Di Jakarta, WET Indonesia bergerak meneruskan apa yang disebut Rose Hartzenberg sebagai “a breakthrough in the water”—“suatu terobosan di dalam air”. 


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.