Kisah Perjuangan Tyson Fury yang Nyaris Tewas Saat Masih Bayi

Reporter:
Editor:

Ariandono

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tyson Fury berpose seusai acara timbang badan, menjelang laga melawan Deontay Wilder di Staples Center, Los Angeles pada 1 Desember 2018. (Reuters)

    Tyson Fury berpose seusai acara timbang badan, menjelang laga melawan Deontay Wilder di Staples Center, Los Angeles pada 1 Desember 2018. (Reuters)

    TEMPO.CO, Jakarta - Keputusan menantang juara tinju dunia kelas berat WBC, Deontay Wilder merupakan pilihan karier yang paling berani diambil oleh Tyson Fury.

    Hanya dengan melakukan dua laga pemanasan melawan petinju kacangan, Fury langsung menantang juara dunia setelah dia vakum selama hampir 3 tahun.

    “Saya ingin menginspirasi banyak orang di dunia tentang sebuah perjuangan mencapai kesuksesan. Kalau saya menang dalam laga nanti, pasti ceritanya akan menarik jika difilemkan,” kata Fury.

    Karier Fury sempat hancur dan dirinya terbenam dalam narkotika tiga tahun lalu.

    “Saya mengonsumsi alkohol, kokain, ecstasi dan semua narkotika. Pikiran saya setiap hanya keinginan untuk bunuh diri saat kehidupan saya terpuruk tiga tahun lalu. Tetapi sekarang kembali untuk merebut kekayaan yang hilang,” ujar Fury.

    Fury memang istimewa. Dia lahir prematur 7 pekan, dan nyaris tak terselamatkan. Namun kini tubuhnya menjulang hingga 203 cm.

    Nama Tyson diadaptasi ayahnya, John Fury yang memang penggemar berat Mike Tyson. Prestasi Fury di amatir biasa-biasa saja, berbeda dengan Wilder yang meraih perunggu Olimpiade Beijing 2008.

    Tetapi setelah menjejakkan kaki di profesional, semuanya berubah. Fury memakai nama Tyson, namun menerapkan teknik bertinju dan berpromosi seperti Muhammad Ali.

    Fury pandai berkata-kata dan mempromosikan dirinya. Pria asal Manchester berusia 30 tahun ini sangat aktif di media sosial. Kata-katanya pedas ketika harus melakukan perang urat syaraf kepada lawan.

    “Deontay tak pernah menghadapi lawan bagus hingga laga ke-30. Kalau hanya rekor menang KO jadi ukuran kehebatannya, jelas salah. Deontay bisa punya rekor 100 main tanpa kalah jika lawannya itu-itu saja,” kata Fury, seakan mencemooh rekor bertanding Wilder yang 40-0-0 (39 KO).

    Fury sudah menjadi juara dunia kelas berat saat rekor bertandingnya 25 kali tanpa kalah, tiga tahun lalu. Dia menang atas petinju kawakan yang hampir 10 tahun merajai kelas berat, Wladimir Klitschko.

    “Lawan-lawan Deontay menyerah KO hanya karena mereka takut pada rekor kemenangan KOnya, seperti ketika Mike Tyson berjaya. Saya harus membuat Deontay keluar dari zona nyaman untuk membuatnya menyerah,” kata Fury lagi yang kini punya rekor 27-0-0 (19 KO).

    Kesempatan menantang Deontay Wilder adalah kebangkitan kedua bagi Tyson Fury, setelah 30 tahun lalu nyaris tak selamat karena lahir prematur dan hidupnya hancur justru saat berada di puncak karier tinju dunia.

    TELEGRAPH | FIGHTNEWS | BOXREC


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.