Susy Susanti Bicara Undian All England yang Tak Menguntungkan

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Bidang Pembina Prestasi Atlet PP PBSI, Susi Susanti, saat konpers BCA Indonesia Open 2017 di Hotel Sultan, Jakarta, 11 Juni 2017. TEMPO/Amston Probel

    Kepala Bidang Pembina Prestasi Atlet PP PBSI, Susi Susanti, saat konpers BCA Indonesia Open 2017 di Hotel Sultan, Jakarta, 11 Juni 2017. TEMPO/Amston Probel

    TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia Susy Susanti menilai hasil undian turnamen All England 2019 yang mempertemukan empat pasangan ganda campuran dalam pertandingan putaran pertama sebagai risiko pemain-pemain nonunggulan.

    "Itulah risiko jika pemain-pemain kami berada di bawah peringkat delapan besar dunia. Mereka bisa saling berhadapan pada laga awal. Tapi jika para pemain masuk delapan besar, peluang mereka untuk saling berhadapan bisa terjadi pada perempat final," kata Susy di Pelatnas PBSI Cipayung, Jakarta Timur, Rabu.

    Susy mengatakan risiko itu menjadi tantangan bagi PBSI untuk menyusun program dan strategi turun dalam turnamen agar para atlet mereka bisa naik peringkat delapan besar dan berpeluang lolos kualifikasi Olimpiade Tokyo 2020.

    "Kami dan para pelatih akan menyiapkan program dan strategi bagaimana pemain dapat mengumpulkan poin kualifikasi Olimpiade, termasuk memantau keikutsertaan tim lawan dalam turnamen," kata peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 itu.

    Meskipun menerima risiko undian All England 2019, Susy mengaku skeptis dengan mekanisme undian yang dilakukan panitia turnamen menyusul beberapa kali ganda putra Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon harus berhadapan dengan sesama ganda putra lain Merah-Putih pada putaran awal.

    "Mereka bilang itu sudah sistem komputer. Tapi, kami merasa seakan tidak diundi karena pemain-pemain kami sering mengalami itu dan harus berhadapan dengan sesamanya," kata Susy yang menambahkan kejadian itu dialami pula para pemain China dan Jepang.

    PSBI pun tetap menerima dan mengambil sisi positif dari hasil undian yang didapatkan para pemain Indonesia dalam turnamen tingkat Super 1000 itu. "Setidaknya, ada pemain-pemain kami yang lolos ke pertandingan putaran berikutnya dan menambah perolehan poin mereka," katanya.

    Susy menambahkan tim binpres PBSI akan memantau hasil pertandingan yang dicapai para pemainnya dalam turnamen lain jika dalam All England tidak bisa menghadapi pemain negara lain.

    "Seperti Tontowi Ahmad/Winny Oktavina Kandow yang ikut dalam tiga turnamen. Kami memantau perkembangan mereka dari turnamen di Spanyol dan Jerman dan bukan hanya di All England saja," katanya.

    Sebelumnya, empat pasangan atlet bulu tangkis nomor ganda campuran Indonesia akan saling menjegal pada pertandingan putaran pertama All England 2019 yang akan berlangsung pada 6-10 Maret.

    Empat pasangan ganda campuran itu adalah Hafiz Faizal/Gloria Emanuelle Widjaja, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti, Tontoi Ahmad/Winny Oktavina Kandow, dan Alfian Eko Prasetya/Marsheilla Gischa Islami.

    Ganda Hafiz/Gloria yang menjadi pasangan unggulan delapan dalam turnamen berhadiah total satu juta dolar AS itu harus berhadapan dengan Praveen/Melati pada laga pertama.

    Pemenang dari "perang saudara" itu berpeluang kembali melawan sesama pasangan Indonesia Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari pada laga kedua jika mereka lolos ke putaran kedua.

    Kemudian, Tontowi yang berpasangan dengan Winny dalam rangkaian turnamen Eropa pertama mereka itu harus menghadapi Alfian/Marsheilla.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.