Dikalahkan Mertens, Simona Halep Tumbang di Qatar Open

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi petenis Rumania, Simona Halep saat gagal menambah perolehan poin dalam pertandingan babak keempat turnamen Australian Open melawan petenis AS, Serena Williams di Melbourne Park, Australia, 21 Januari 2019. REUTERS/Edgar Su

    Ekspresi petenis Rumania, Simona Halep saat gagal menambah perolehan poin dalam pertandingan babak keempat turnamen Australian Open melawan petenis AS, Serena Williams di Melbourne Park, Australia, 21 Januari 2019. REUTERS/Edgar Su

    TEMPO.CO, Jakarta - Petenis Belgia Elise Mertens bangkit dari ketinggalan satu set untuk mengalahkan unggulan teratas Simona Halep 3-6, 6-4, 6-3 dan meraih gelar pertamanya di turnamen tingkat premier Qatar Terbuka pada Sabtu, 16 Februari 2019.

    Setelah kedua pemain saling mematahkan servis pembuka mereka, Halep mengambil kendali pertandingan dengan memenangkan 18 poin berturut-turut dari skor 3-3 untuk meraih set pertama.

    Petenis peringkat tiga dunia, Halep, mendapat break awal pada set kedua tetapi Mertens segera merespon untuk mendapatkan pola permainannya kembali maksimal.

    Petenis non-unggulan Mertens menunjukkan keuletannya menahan dua break point pada game ketujuh sebelum ia mematahkan servis Halep dan memastikan kemenangan set pertamanya dalam enam pertandingan melawan petenis Rumania itu.

    Dengan momentum kuat di pihaknya, Mertens mendapat break awal yang penting dalam set penentuan dan melanjutkan untuk menahan gelombang serangan Simona Halep, yang sangat terlambat untuk memenangkan gelar WTA kelimanya.

    Mertens, peringkat 21 dunia, mencatat tiga kemenangan 10 besar di Doha pekan ini, setelah ia juga mengalahkan Kiki Bertens dan Angelique Kerber masing-masing di babak perempat final dan semifinal. Tapi, kemenangan melawan Simona Halep, adalah prestasi besar buat Elise Mertens.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.