Grand Final Proliga: Putra Pertamina Masih Kecewa pada Wasit

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim voli putra Proliga, Jakarta Pertamina Energi. ANTARA/Mohammad Ayudha

    Tim voli putra Proliga, Jakarta Pertamina Energi. ANTARA/Mohammad Ayudha

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Tim putra Jakarta Pertamina Energy bakal menjamu Palembang Bank Sumsel Babel dalam perebutan posisi ketiga Grand Final Proliga 2019 di GOR Amongrogo Yogyakarta, Minggu, 24 Februari 2019.

    Menjelang laga pamungkas itu, Jakarta Pertamina mengakui masih memendam rasa kecewa pasca langkahnya menuju grand final terganjal Surabaya Bhayangkara Samator dalam final four putaran kedua di GOR Ken Arok Malang, 16 Februari 2019 lalu.

    Baca: Jadwal Grand Final Proliga 2019: 23-24 Februari di Yogyakarta

    Bukan kecewa karena kekalahan telak 0-3 atas Samator yang membuat tim asuhan Putut Marhaento itu meradang, melainkan kinerja wasit yang dinilai tak mumpuni memimpin hingga membuat permainan Antho Bertiyawan cs tak berkembang.

    “Ya masih kecewa (kinerja wasit saat lawan Samator), cuma kami tak mau mengkambing-hitamkan, jadi pembelajaran saja,” ujar pelatih tim putra Jakarta Pertamina Energi, Putut Marhaento kepada Tempo, Jumat, 22 Februari 2019.

    Putut berharap dalam laga pamungkas ini, timnya benar-benar berharap dapat dipimpin wasit yang benar-benar profesional.

    Baca: Proliga 2019: Persiapan Putri BNI 46 Berebut Posisi Tiga Vs BJB

    “Jangan sampai tim sudah capek-capek latihan, lalu dipimpin wasit yang kemampuannya tidak cukup, itu kan sayang,” ujarnya.

    Putut menegaskan, menang kalah hal biasa bagi timnya asal dilakukan secara sportif. Namun jika kemenangan dan kekalahan itu dipengaruhi faktor  seperti wasit ia sangat menyesalkan.

    “Apalagi laga kemarin (saat lawan Samator) menjadi tahap kritis (untuk lolos grand final), dengan wasit seperti itu jelas sangat berpengaruh bagi tim,” ujarnya.

    Dalam laga final four saat itu, Samator menggilas Jakarta Pertamina dengan kemenangan 3-0 (25-23, 25-22, 25-17).

    “Saat (lawan Samator) itu kan jelas bola (Jakarta Pertamina) jelas-jelas sudah masuk (dapat poin) tapi tak dihitung, pemain lalu emosi,” ujarnya. Putut mencatat setidaknya saat itu timnya mendapat dua kali bola touch ball dan yang kedua bola double. Kalau pemain sudah emosi itu kan mengurangi ball feeling, mental dan konsentrasi pemain saat itu hilang,” ujarnya.

    Meski kecewa dengan kepimpinan wasit saat itu, Putut menuturkan tak akan dendam apalagi sampai menggunakan cara-cara tak sportif. Misalnya memesan siapa wasit yang dipilih untuk memimpin.

    “Dapat wasit yang sama saat lawan Bank Sumsel besok pun tak masalah, “ ujarnya.

    Menghadapi Palembang Bank Sumsel Babel dalam perebutan posisi ketiga Proliga, Putut memastikan anak asuhnya sudah kembali pulih dan mental kuat untuk menang meski hanya perebutan posisi ketiga.

    “Posisi ketiga kan juga disebut juara, tiga lebih baik daripada tidak sama sekali,” ujarnya.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Kasus Peretasan, dari Rocky Gerung hingga Pandu Riono

    Peretasan merupakan hal yang dilarang oleh UU ITE. Namun sejumlah tokoh sempat jadi korban kasus peretasan, seperti Rocky Gerung dan Pandu Riono.