Audisi Bulu Tangkis Dituding Eksploitasi Anak, Apa Kata Djarum?

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Direktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin; pebulu tangkis PB Djarum Jovinka Vandari dan Rahmad Ritonga; Manajer Tim PB Djarum Fung Permadi; serta tim pencari bakat PB Djarum Lius Pongoh saat menghadiri konferensi pers Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis 2018 di Plaza Senayan, Jakarta pada Selasa, 6 Februari 2018. Tempo/Erlangga Dewanto

    Direktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin; pebulu tangkis PB Djarum Jovinka Vandari dan Rahmad Ritonga; Manajer Tim PB Djarum Fung Permadi; serta tim pencari bakat PB Djarum Lius Pongoh saat menghadiri konferensi pers Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis 2018 di Plaza Senayan, Jakarta pada Selasa, 6 Februari 2018. Tempo/Erlangga Dewanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Yayasan Lentera Anak memberikan laporan atas dugaan esploitasi anak yang dilakukan melalui Audisi Beasiswa Djarum Badminton. "Kami menduga ada eksploitasi berkedok beasiswa," ujar Chairperosn Yayasan Lentera Anak Lisda Sundari, Rabu, 20 Februari 2019 di Kantor Tempo.

    Lisda melanjutkan bahwa Yayasan Lentera Anak telah melakukan survei daring pada 7 November hingga 3 Desember 2018 dengan judul 'Interpretasi tulisan Djarum pada kaos yang dikenakan anak'. Surveri tersebut diikuti oleh 514 responden dari 29 provinsi, yang diikuti oleh anak dengan usia kurang dari 18 tahun hingga 25 tahun.

    "Terdapat 60 persen lebih responden menginterpretasikan bahwa tulisan Djarum pada kaos yang dikenakan anak adalah brand image rokok Djarum," tutur Lisda. "Sedangkan sisanya menginterpretasikan kompetisi badminton 31 persen, dan 1 persen menjawab alat jahit".

    Audisi Beasiswa Djarum Badminton, sudah dilaksanakan sejak 2006, kata Lisda, sampai 2014 audisi itu hanya diadakan di satu kota yaitu Kudus untuk usia remaja. Pada 2015 mengalami perluasan menjadi 8 kota sampai 10 kota.

    Dan, Lisda melanjutkan, pada 2017 audisi itu menetapkan penurunan usia menjadi lebih muda lagi. Pada 2016 sampai dengan 2018, Yayasan Lentera Anak memutuskan turun ke lapangan untuk memantau langsung audisi tersebut di beberapa kota.

    "Di sana penuh dengan atribut, ada juga simulasi dengan teknologi. Hal yang agak mengkhawatirkan karena anak-anak mengharuskan menggunakan t-shirt yang bertuliskan Djarum ukuran besar dan badminton club kecil di bawahnya," kata Lisda. "Dan ketika di bagian nomor, mereka diminta untuk menempelkannya di punggung tidak boleh menutupi logo, tubuh mereka dijadikan sebagai sarana promosi rokok."

    Namun, hal tersebut dibantah oleh Director Program Bakti Olahraga Djarum Foundation Yoppy Rosimin. Menurutnya program Audisi Beasiswa Djarum Badminton tidak pernah mengeksploitasi anak.

    "Kami tidak pernah, apalagi produk rokok atau promosi rokok. Yang ada adalah Djarum Badminton Club, coba lihat dengan seksama, Jangan berprasangka dan berimaginasi. Tidak ada eksploitasi anak kok," kata Yoppy saat dihubungi Tempo melalui pesan WhatsApp, Kamis, 21 Februari 2019.

    Lalu, Yoppy menegaskan bahwa audisi Djarum badminton selalu memfokuskan masalah badminton, dan tidak ada promosi rokok sedikitpun. "Coba simak dengan cermat, kami fokus pada masalah badminton, selalu Djarum Badminton Club," tutur Yoppy.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.