Berkuda Indonesia Masih Absen di Olimpiade 2020, Ini Sebabnya

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Atlet berkuda Indonesia, Larasati Ir Gading, menunggangi kuda bernama Calaiza berlaga dalam ajang Asian Games 2018 di International Equestrian Park Pulomas (JIEPP), Pulogadung, Jakarta, Kamis, 23 Agustus 2018. Setiap peserta diberi waktu sembilan menit untuk menunjukkan aksinya sesuai dengan irama musik yang dilantunkan. TEMPO/Subekti

    Atlet berkuda Indonesia, Larasati Ir Gading, menunggangi kuda bernama Calaiza berlaga dalam ajang Asian Games 2018 di International Equestrian Park Pulomas (JIEPP), Pulogadung, Jakarta, Kamis, 23 Agustus 2018. Setiap peserta diberi waktu sembilan menit untuk menunjukkan aksinya sesuai dengan irama musik yang dilantunkan. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Pengurus Pusat Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (PP Pordasi) memperkirakan Indonesia kemungkinan besar masih akan absen dari perhelatan Olimpiade 2020 yang digelar di Tokyo, Jepang, 24 Juli-9 Agustus 2020 mendatang.

    "Olimpiade 2020 sudah di depan mata, kurang realistis lah kalau kita memaksakan ikut kirimkan atlet," ujar Sekretaris Jenderal PP Pordasi Wijaya Noeradi ditemui di sela Musyawarah Provinsi Luar Biasa Pordasi DIY di Yogyakarta Minggu 3 Maret 2019.

    Selama perhelatan Olimpiade, ujar Wijaya, Indonesia memang belum pernah mengirimkan atlet berkuda nya. Indonesia kemungkinan besar baru bisa mengirim atletnya ikut pada Olimpiade 2024. "Tapi tidak tahu juga kalau di tengah jalan ada yang muncul (mau ikut Olimpiade 2020)," ujarnya.

    Kendala Indonesia tak bisa kirim atlet berkuda pada Olimpiade 2020 menurut Wijaya karena banyak hal. Salah satunya persiapan matang antara atlet dan kuda yang dipakai bertanding.

    "Atletnya mungkin sudah jago, kudanya hebat tapi belum tentu menghasilkan prestasi yang bagus, harus ada juga kecocokan antara atlet dan kudanya," ujarnya.

    Selain itu, ujar Wijaya, Indonesia saat ini menurutnya juga belum memiliki kuda yang memenuhi standar mengikuti level Olimpiade.

    "Untuk olimpiade itu butuh kuda kuda dengan loncatan tinggi, sekitar 1,60 meter, sedangkan kuda kuda kita sekarang jumping nya sekitar 1,40 meter, " ujarnya.

    Wijaya menuturkan, walaupun kemungkinan besar berkuda Indonesia absen di olimpiade 2020, Indonesia kini telah berfokus mempersiapkan event SEA Games 2019 di Filipina.

    "Kami siapkan sekitar delapan atlet untuk nomor polo pada SEA Games 2019 nanti," ujarnya. Nomor polo sendiri pernah diikuti sekali kontingen Indonesia pada Sea Games 2007 silam.

    Hanya saja, untuk SEA Games 2019 Pordasi belum berani memasang target karena regulasinya belum jelas. "Nanti di SEA Games itu belum jelas ketentuannya misalnya pakai kuda siapa, disediakan atau boleh bawa kuda sendiri itu belum ada," ujarnya.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.