MotoGP Indonesia 2021 Tidak Digelar di Sirkuit Sentul, Karena...

Reporter:
Editor:

Ariandono

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi didampingi Mantan Pebalap Nasional Tinton Suprapto dan putranya yang juga pebalap Ananda Mikhola meninjau Sirkuit Sentul, Bogor, 6 Maret 2018. Foto: Biro Pers Setpres

    Presiden Jokowi didampingi Mantan Pebalap Nasional Tinton Suprapto dan putranya yang juga pebalap Ananda Mikhola meninjau Sirkuit Sentul, Bogor, 6 Maret 2018. Foto: Biro Pers Setpres

    TEMPO.CO, Jakarta - Tokoh balap nasional yang juga direktur utama Sirkuit Internasional Sentul Tinton Soeprapto berpesan kepada pemerintah dan masyarakat untuk turut menjaga dan membenahi Sirkuit Sentul yang merupakan sirkuit nasional.

    "Sentul itu pindahan dari Ancol, nasional miliknya, bukan milik Tinton pribadi, milik masyarakat Indonesia, bukan Jabar bukan pula DKI," kata Tinton di sela-sela rapat kerja provinsi IMI DKI Jakarta di Jakarta, Rabu.

    Sirkuit yang pernah menggelar balapan MotoGP, kala itu masih bernama GP500 pada 1996-1997 itu, dipandang sudah tidak layak untuk menggelar sejumlah ajang balap berskala internasional.

    "Sirkuit Sentul itu miliki nasional, dikawal!," pesan Tinton.

    Baca: Rencana MotoGP Indonesia: Dorna Tegaskan Sirkuit Mandalika Aman

    Tinton pernah menemui Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko tahun lalu untuk mengajukan Sirkuit Sentul sebagai salah satu arena untuk menggelar balapan MotoGP 2020.

    Namun justru Mandalika, Lombok yang dilirik Dorna sebagai tuan rumah balapan MotoGP di Indonesia pada 2012.

    Ketua DPRD DKI Jakarta Prasetyo Edi Marsudi mendukung pernyataan ayah dari pebalap Ananda Mikola itu dan berharap pemerintah bisa memaksimalkan potensi sirkuit sepanjang 4,12 km yang terletak di Bogor, Jawa Barat itu.

    "Tapi pertanyaannya kan itu perlu suntikan hibah dari APBD juga," kata Prasetyo.

    Salah satu hal utama yang dibutuhkan oleh Sirkuit Sentul adalah aspal yang baru mengingat kondisi trek yang kurang memadai. "Dan aspal itu tidak kecil loh nilainya," kata politisi dari PDI-Perjuangan itu.

    Baca: Terungkap, Alasan Dorna Gelar MotoGP dan WSBK di Indonesia

    "Saya bilang ke pak Tinton tadi, coba buat RABnya melalui KONI Jakarta, ajukan ke APBD kita," kata Prasetyo.

    "Yang diperlukan sentul adalah aspal, karena itu sirkuit. Dan di belakang Sentul itu masih banyak tempat untuk menggelar multi event. Kalau memang pemerintah ingin membantu sirkuit internasional yang layak untuk dipakai oleh pebalap-pebalap internasional itu sentul masih ada lahan yang bisa dikembangkan."

    Namun demikian Prasetyo tidak menampik fakta jika model trek sirkuit yang dirampungkan pada 1994 itu sudah ketinggalan zaman.

    Namun demikian Prasetyo menyatakan komitmennya perihal nasib sirkuit yang dimiliki PT Sarana Sirkuitindo Utama, dengan pemegang saham terbesar selaku komisaris utama adalah Hutomo Mandala Putra itu.

    "Saya akan berjuang ke situ lah, saya akan bicara dengan pak Menpora dan dengan pak Presiden kalau ada. Jangan jauh-jauh lah, sirkuit jauh-jauh yang nonton enggak ada lagi nanti," pungkas Prasetyo.

    Sejarah mencatat Sirkuit Sentul dibangun dari hasil pesangon digusurnya sirkuit Ancol pada akhir tahun 80-an.

    Sirkuit Ancol, yang dulu digunakan untuk balap motor dan mobil, dipandang memiliki tingkat kebisingan yang tinggi mengingat lokasinya yang dekat dengan pemukiman hingga akhirnya sirkuit dipindah ke wilayah Sentul, Bogor.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.