Mantan Bintang UFC Ini Dihujat Karena Menelantarkan Anjing

Reporter:
Editor:

Ariandono

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anjing Weimaraner kurus ini diterlantarkan di pedesaan Tacaringua de Mamporal, negara bagian Miranda, Venezuela.[Daily Mail]

    Anjing Weimaraner kurus ini diterlantarkan di pedesaan Tacaringua de Mamporal, negara bagian Miranda, Venezuela.[Daily Mail]

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan bintang UFC, Frank Shamrock menuai hujatan karena menelantarkan anjing peliharaannya di bandara Love Field, Dallas, Amerika Serikat pada tahun lalu.

    Anjing betina bernama Zelda itu ditelantarkan Shamrock selama lima hari dengan cara diikat di sebuah truk yang diparkir di bandara tersebut.

    Cerita soal Zelda yang ditelantarkan mantan bintang UFC tersebut baru mengemuka pada 4 April lalu setelah disebarkan oleh kelompok pencinta hewan di Dallas, meskipun anjing itu sudah mati pada November 2018. Zelda akhirnya ditemukan oleh seorang wanita dan dipelihara hingga mati.

    Baca: Conor McGregor Rasis, Bandingkan Istri Khabib dengan Handuk

    Menurut Shamrock, anjing itu adalah salah satu dari banyak peliharaan ibunya yang sudah tua, dan tak sanggup lagi merawat hewan-hewan peliharaannya.

    “Saya sudah mengiklankan Zelda lewat facebook, tetapi tidak ada yang berminat. Saya juga sudah menawarkan dia ke rumah singgah hewan, tetapi ditolak,” kata Shamrock dalam pembelaannya.

    Baca: Khabib Nurmagomedov dan Conor McGregor Bertengkar Lagi di Twitter

    “Saya ikat Zelda di belakang truk saya, namun tetap meninggalkan air dan makanan serta memberi tahu petugas keamanan dengan harapan ada yang mau merawat Zelda,” imbuh Shamrock.

    Meskipun berusaha memberikan penjelasan, mantan bintang UFC tersebut tetap dihujat oleh kelompok pencinta hewan di Dallas. Namun Shamrock menganggap pemberitaan soal itu berlebihan karena status dia sebagai atlet MMA yang tersohor.

    THE SUN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.