Demi SEA Games 2019, Bhayangkara FC Turunkan Pemain Muda

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Timnas U-22 Bagas Adi Nugroho (tengah) mengangkat Piala AFF U-22 di Stadion Nasional Olimpiade Phnom Penh, Kamboja, Selasa, 26 Februari 2019. ANTARA

    Pemain Timnas U-22 Bagas Adi Nugroho (tengah) mengangkat Piala AFF U-22 di Stadion Nasional Olimpiade Phnom Penh, Kamboja, Selasa, 26 Februari 2019. ANTARA

    TEMPO.CO, Jakarta - Klub Bhayangkara FC akan memberikan kesempatan bagi pemain mudanya untuk berlaga di Liga 1 Indonesia 2019, demi mempersiapkan diri menuju SEA Games 2019.

    "Kami ingin memberikan kesempatan bermain karena tahun ini ada SEA Games," kata Manajer Bhayangkara FC AKBP Sumardji di Jakarta, Senin, 15 April 2019.

    Bhayangkara FC menjadi klub yang banyak menyumbang pemain ke tim nasional U-22 dan U-23 yang dilatih Indra Sjafri. Ada empat nama pemain skuat berjuluk The Guardian di timnas U-23 yang membawa Indonesia juara Piala AFF U-22 2019 dan berlaga di Kualifikasi Piala Asia U-23 AFC 2020. Mereka adalah Awan Setho Rahardjo, Bagas Adi Nugroho, Sani Rizki Fauzi, dan Nurhidayat Haji Haris.

    Karena usia mereka masih masuk dalam kategori U-22, keempat nama tersebut sangat mungkin masuk ke dalam timnas U-22 yang disiapkan untuk mengikuti SEA Games 2019. Alasan ingin memberikan pemain muda waktu berkompetisi membuat Sumardji mengisyaratkan timnya tidak berniat menambah pemain baru khususnya di posisi bek tengah.

    "Di sana sudah ada Bagas dan Nurhidayat, juga Indra Kahfi dan Jajang Mulyana. Jadi lini belakang sudah menumpuk," tutur Sumardji.

    Liga 1 Indonesia musim 2019 dimulai pada Rabu, 8 Mei 2019. Operator liga PT Liga Indonesia Baru (LIB) memberikan waktu dari 10 April sampai 9 Mei 2019 bagi klub-klub untuk mendaftarkan pemainnya di Liga 1.


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.