Kevin / Marcus Gagal Juara di 3 Turnamen, Begini Kata Pelatihnya

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ganda putra Indonesia Marcus Fernaldi Gideon (kiri) dan Kevin Sanjaya Sukomuljo. Antara

    Ganda putra Indonesia Marcus Fernaldi Gideon (kiri) dan Kevin Sanjaya Sukomuljo. Antara

    TEMPO.CO, Jakarta - Penampilan ganda putra Kevin Sanjaya/Marcus Gideon tengah menjadi sorotan usai menjalani tiga turnamen terakhir. Pemegang peringkat satu dunia Badminton World Federation itu gagal membawa pulang trofi di turnamen All England, Malaysia Open, dan Singapore Open 2019.

    Bahkan di All England, ganda yang dijuluki The Minions itu gagal melewati babak pertama. Padahal Kevin/Marcus sudah dua kali menjuarai turnamen paling bergengsi tersebut.

    Kepala pelatih ganda putra Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Herry Iman Pierngadi menilai Kevin/Marcus tak bisa dituntut harus menang melulu. Ia malah khawatir bila anak asuhnya itu terus menerus bisa menang. "Selama ini kan setiap ditargetkan menang mereka bisa memenuhinya," kata Herry di pemusatan latihan nasional PBSI, Jakarta, Kamis, 18 April 2019.

    Herry menilai bila Kevin/Marcus konsisten bisa menang di berbagai turnamen maka konsekuensinya saat tampil di Olimpiade nanti tak boleh membuat kesalahan. Padahal tekanan di Olimpiade amat tinggi.

    Meski demikian, Herry berharap, kekalahan atau kegagalan keduanya merebut trofi bukan di turnamen yang penting. "Kalau seperti Kejuaraan Dunia ya mereka harus bisa juara," ucapnya.

    Terhitung dari awal 2019, Kevin/Marcus sudah menjuarai dua turnamen dari enam yang diikuti. Mereka berhasil merebut trofi di Malaysia Masters dan Indonesia Masters pada Januari lalu. Dalam jangka panjang, PBSI menargetkan keduanya bisa naik podium satu di Kejuaraan Dunia 2019 dan Olimpiade Tokyo 2020. Sebab dua gelar itu yang belum pernah diraih The Minions.

    ADITYA BUDIMAN | PBSI


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.