Mobil Porsche, Hadiah Petra Kvitova Menuju Prancis Terbuka

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Unggulan ketiga Petra Kvitova menjadi petenis putri pertama yang memenangi gelar lebih dari satu pada musim ini, setelah menang 6-3, 7-6 (2) melawan Anett Kontaveit pada Porsche Tennis Grand Prix di Stuttgart, Jerman, Minggu, 28 April 2019.

    Prestasi ini menjadi modal bagus buat Kvitova untuk menghadapi turnamen akbar di tanah liat, Grand Slam Prancis Terbuka, di lapangan merah Roland Garros, Paris, mulai 26 Mei mendatang.

    Bintang tenis asal Republik Cek berusia 29 tahun itu juga menjuarai Sydney International pada Januari. Sebanyak 18 turnamen pertama dalam kalender Asosiasi Tenis Wanita (WTA) dimenangi 18 pemain yang berbeda.

    “Luar biasa melihat arenanya penuh setiap hari,” kata Kvitova setelah mengalahkan unggulan delapan asal Estonia, Kontaveit. "Saya sangat gembira bahwa saya sudah mencapai final," kata Kvitova di laman WTA. “Tentu saja memenangi trofi ini dan satu mobil cantik adalah bonus besar.”

    Petenis peringkat ketiga dunia itu menyelamatkan lima dari tujuh break point dan menghasilkan lima kali servis ace.

    Kvitova, dua kali juara Wimbledon dan finalis Australia Open 2019, melaju untuk memimpin 6-0 pada tiebreak. Setelah Kontaveit nenyelamatkan dua match point, pukulan forehand Kvitova memastikan kemenangan dalam waktu satu jam dan 33 menit.

    Sedangkan bintang tenis putra Austria, Dominic Thiem, mengalahkan petenis Rusia, Daniil Medvedev, 6-4, 6-0 pada final, Minggu, untuk memenangi trofi Barcelona Open.

    Dikutip dari laman ATP, Senin, Thiem menjadi petenis keempat pada 15 tahun terakhir yang meraih gelar di Barcelona, bergabung dengan Rafael Nadal, Kei Nishikori dan Fernando Verdasco. Ia juga menjadi pemain tenis Austria pertama yang menjadi juara pada turnamen ini sejak Thomas Muster pada 1996.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.