Berencana Gelar Event Internasional, Mahasiswa UNJ Berguru ke KOI

Reporter:
Editor:

Ariandono

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kunjungan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ke Komite Olimpiade Indonesia (KOI) pada Selasa 30 April 2019. (istimewa)

    Kunjungan mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ke Komite Olimpiade Indonesia (KOI) pada Selasa 30 April 2019. (istimewa)

    TEMPO.CO, Jakarta - Sebanyak 25 mahasiswa-mahasiswi yang tergabung dalam Unit Kegiatan Olahraga Universitas Negeri Jakarta (UNJ) mengaku mendapat pelajaran berharga dari pengurus Komite Olimpiade Indonesia (KOI) dalam kegiatan studi banding di Lantai 19 Gedung FX Senayan Jakarta, Selasa, 30 April 2019.

    "Kami sangat berterima kasih kepada pengurus KOI yang telah menyediakan waktu dengan menerima kegiatan studi banding kami. Banyak pelajaran berharga yang kami dapat dari penjelasan pengurus KOI. Baik tentang visi dan misi KOI maupun cara mengelola multi event," kata Siprianto Bahar, Ketua Unit Keolahragaan UNJ.

    Dalam studi banding unit kegiatan olahraga mahasiswa UNJ dengan tema "Explore and Sharing Knowledge About Sport", Plt Sekjen KOI Hellen Sarita Delima didampingi Harry Warganegara (Komisi Sport Development), Raja Parlindungan Pane (Komisi Sports Environment) , Syahrir Nawier (Komisi Finance and Budgeting), dan Kresna Bayu (Komisi Atlet).

    "KOI merasa terhormat dengan kedatangan mahasiswa UNJ untuk melakukan studi banding. Silakan saja jika ada mahasiswa dari universitas lainnya yang ingin melakukan kegiatan serupa," kata Hellen Sarita Delima.

    Dalam pertemuan itu, Hellen menjelaskan aecara detail visi dan misi KOI dalam pembinaan olahraga Indonesia. Bahkan, dia aecara terbuka menjelaskan masalah sumber dana KOI.

    "KOI itu tidak menggunakan dana APBN untuk operasional dan berbagai kegiatan untuk memasyarakatkan olahraga. Dana itu didapatkan dari bantuan IOC dan sponsor. Semua itu diperoleh karena adanya trust dari IOC maupun sponsor," jelasnya.

    Lantas bagaimana dengan bantuan dana APBN? Hellen menjawab, "Dana APBN itu hanya didapatkan KOI saat mengirimkan Kontingen Indonesia menuju multi event seperti SEA Games, Asian Games, Olympic Games dan multi event lainnya."

    Dalam dialog yang penuh keakraban itu, baik Harry Warganegara, Raja Pane, Syarir Nawier dan Kresna Baru menceritakan pengalaman suka dan duka saat terlibat pada panitia Asian Games (Inasgoc).

    Mengenai adanya keinginan mahasiswa UNJ menggelar kejuaraan internasional Pentaque yang mengundang 34 negara, Oktober mendatang, Kresna Bayu memberikan masukan untuk lebih matang memikirkannya. Pasalnya, bukan hanya dana yang cukup besar dibutuhkan tetapi perlu persiapan yang matang.

    "Saran saya panitia harus lebih dulu mengirimkan surat secara resmi kepada induk organisasi untuk mendapatkan dukungan. Kemudian, lakukan persiapan secara matang sehingga event yang digelar bisa berlangsung sukses," kata mantan pejudo nasional ini.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Satu Tahun Bersama Covid-19, Wabah yang Bermula dari Lantai Dansa

    Genap satu tahun Indonesia menghadapi pandemi Covid-19. Kasus pertama akibat virus corona, pertama kali diumumkan pada 2 Maret 2020.