Tenis: Azarenka Gagalkan Peluang Hattrick Svitolina di Roma

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petenis asal Belarus, Victoria Azarenka melakukan sesi latihan jelang tampil dalam Australia Open di Melbourne Park, Australia, 10 Januari 2019. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

    Petenis asal Belarus, Victoria Azarenka melakukan sesi latihan jelang tampil dalam Australia Open di Melbourne Park, Australia, 10 Januari 2019. REUTERS/Kim Kyung-Hoon

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemain tenis putri Belarusia, Victoria Azarenka, menyingkirkan juara dua kali tunamen internasional Italia, Elina Svitolina, dalam tiga set untuk maju ke babak ketiga.

    Azarenka mengikuti turnamen di Roma itu melalui jatah fasilitas wildcard, yaitu jatah untuk masuk babak utama dengan pertimbangan khusus, dalam hal ini prestasi pada masa lalu sebagai mantan pemain nomor satu dunia.

    Azarenka harus bangkit dari kehilangan set pertama dan menyelamatkan poin penentuan  pada akhir set ketiga untuk menang 4-6, 6-1, 7-5, setelah berada di lapangan selama dua jam 14 menit.

    "Ini pertandingan yang sangat dramatis. Banyak istirahat dan semacamnya menyertai hujan dan itu cukup sulit untuk dihadapi," kata Azarenka dikutip dari laman WTA Tour, Rabu, 15 Mei 2019. "Tapi saya senang saya bisa mengatasinya, memainkan permainan saya, selamat dari poin penentuan, dan kemudian mulai dari sana untuk bermain tenis yang hebat."

    Kemenangan itu mengakhiri harapan Svitolina untuk membukukan gelar juara di Italia tiga kali beruntun. Pemain Ukraina ini berjuang mengatasi cedera lutut pada awal musim ini. Ia ingin menjadi pemain tenis putri pertama yang juara di Roma tiga kali berturut-turut sejak Conchita Martinez pada 1993-1996.

    Turnamen tenis di Roma adalah rangkaian terakhir kejuaraan pemanasan menuju Grand Slam Prancis Terbuka di lapangan tanah liat Roland Garros, Paris.


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Beda Kerusuhan Mei 2019 dengan Kengerian di Ibu Kota 1998

    Kerusuhan di Jakarta pada bulan Mei terjadi lagi, namun kejadian di 2019 berbeda dengan 1998. Simak kengerian di ibu kota pada akhir Orde Baru itu.