Atlet Gunakan Doping, Eks Manajer Atletik Kenya Dihukum

Reporter:
Editor:

Choirul Aminuddin

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi pelari Kenya, Sally Jepkosgei Kipyego (kiri) dan Molly Huddle usai final lari 10,000m putri dalam kejuaraan atletik dunia di stadion Bird's Nest, Beijing, Cina, 24 Agustus 2015. REUTERS/Dylan Martinez

    Ekspresi pelari Kenya, Sally Jepkosgei Kipyego (kiri) dan Molly Huddle usai final lari 10,000m putri dalam kejuaraan atletik dunia di stadion Bird's Nest, Beijing, Cina, 24 Agustus 2015. REUTERS/Dylan Martinez

    TEMPO.CO, Jakarta - Krisis doping di dunia atletik Kenya kian dalam setelah mantan pelatih kepala dan manajer Olimpiade negeri itu, Michael Rotich, dijatuhi hukuman oleh IAAF selama 10 tahun tak boleh berhubungan dengan olahraga ini, Rabu 22 Mei 2019.

    Rotich, yang memimpin tim Kenya di Olimpiade Rio pada 2016 didapati oleh Badan Etik IAAF memberikan persetujuan sebelumnya kepada para atlet dan pelatih mengenai tes penggunakan obat-obatan haram di dunia olahraga.

    Temuan itu menyusul investigasi yang dilakukan oleh IAAF setelah membaca laporan wawancara Rotich dengan The Sunday Times dan liputan televisi Jerman, ARD, yang menyebutkan bahwa dia bisa memberikan tips penggunaan doping tanpa ketahuan asalkan mendapatkan imbalan bayaran.

    "Selanjutnya dia dipulangkan dari Brasil dengan menanggung rasa malu," tulis Daily Mail, Rabu 22 Mei 2019.

    Memang sidang panel IAAF tidak menemukan bukti bahwa Rotich melanggar aturan Antidoping, namun jelas lembaga ini, dia telah bertindak korup dan dengan sengaja melanggar prinsip-prinsip kode etik IAAF.


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Cerita Saksi Soal Kebararan Pabrik Korek Api di Desa Sambirejo

    Inilah cerita saksi tentang kebakaran pabrik korek api gas di Desa Sambirejo, Langkat, Sumatera Utara memakan korban sampai 30 jiwa.