Lalu Zohri Menilai Terlalu Cepat ke Olimpiade

Reporter:
Editor:

Choirul Aminuddin

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Atlet lari Lalu Muhammad Zohri usai menggelar latihan di Stadion Madya, Jakarta, Kamis, 23 Mei 2019. TEMPO/Aditya Budiman.

    Atlet lari Lalu Muhammad Zohri usai menggelar latihan di Stadion Madya, Jakarta, Kamis, 23 Mei 2019. TEMPO/Aditya Budiman.

    TEMPO.CO, Jakarta - Lalu Muhammad Zohri masih tak menyangka bakal berlomba di Olimpiade Tokyo 2020. Padahal ia merasa belum lama bergabung di pemusatan latihan nasional (Pelatnas) atletik di bawah Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI).

    Dari penuturannya, sprinter berusia 18 tahun itu menyatakan baru bergabung di Pelatnas atletik selama setahun lima bulan. Berlari dari satu kejuaraan ke kejuaraan lainnya Zohri bersyukur akan mewakili Indonesia di pesta olahraga tertinggi, Olimpiade.

    "Saya bersyukur di usia masih muda bisa dapat tiket olimpiade. Tidak banyak rasanya orang seperti saya," kata Zohri di Stadion Madya, Jakarta, Kamis, 23 Mei 2019.

    Baca: Olimpiade 2020, Zohri Diharapkan Turun di Nomor Estafet

    Terhitung sejak bergabung di Pelatnas, Zohri merasa terlalu cepat berlaga di Olimpiade. Namun karena sudah menjadi target maka mau tak mau ia mengejarnya. "Karena target, saya harus tercapai dan akhirnya tercapai (lolos ke olimpiade)," ucapnya.

    Perjalanan karir Zohri diawali pada kejuaraan atletik tingkat sekolah menengah. Medali pertamanya ialah menjuarai Kejuaraan Pusat Pembinaan dan Pelatihan Olahraga Pelajar (PPLP) pada Desember 2017. Kemampuannya terus meningkat sejak bergabung bersama Pelatnas PASI.

    Kejutan pertama diberikan Zohri saat merebut gelar juara dunia U-20 di Finlandia 2018 pada nomor lari 100 meter. Sejak saat itu rekor demi rekor selalu dekat dari Zohri. Tampil di tiga kejuaraan pada tiga bulan terakhir ini ia mempertajam catatan waktu milik sprinter Suryo Agung yang sudah bertahan sejak SEA Games 2009.

    Meski dinilai terlalu cepat ke Olimpiade, Zohri tetap merasa tidak puas. Kini saat bertanding, ia mengatakan, sudah tidak terlalu mengincar gelar juara. Zohri menyebut memperbaiki catatan waktu dan mengurangi kesalahan di lintasan jadi tujuan utamanya. "Target pribadi karena di Asia Tenggara belum ada yang sembilan detik harapannya saya bisa," tutur dia.

    Pelatih atletik nasional Eni Nuraini menilai kemampuan Zohri masih bisa dikembangkan. Menurut dia, usia emas seorang sprinter ada di kisaran 23-25 tahun.

    Namun pelatih tidak akan memaksa Zohri untuk terus menerus mengejar target. PB PASI, kata Eni, berupaya menuntun Zohri agar berkembang sesuai dengan usianya. "Dia masih muda. Kami tidak akan terlalu membebani," kata Eni.

    ADITYA BUDIMAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Kasus Peretasan, dari Rocky Gerung hingga Pandu Riono

    Peretasan merupakan hal yang dilarang oleh UU ITE. Namun sejumlah tokoh sempat jadi korban kasus peretasan, seperti Rocky Gerung dan Pandu Riono.