Kasus Mafia Bola Dikhawatirkan Kandas di Pengadilan, Karena...

Reporter:
Editor:

Ariandono

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tersangka kasus perusakan barang bukti praktek mafia bola pengaturan skor, Joko Driyono, hendak dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan di Polda Metro Jaya, Jumat, 12 April 2019. Tempo/Adam Prireza

    Tersangka kasus perusakan barang bukti praktek mafia bola pengaturan skor, Joko Driyono, hendak dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Jakarta Selatan di Polda Metro Jaya, Jumat, 12 April 2019. Tempo/Adam Prireza

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Paguyuban Suporter Timnas Indonesia (PSTI) Ignatius Indro mendesak Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan hakim tidak ikut-ikutan “masuk angin” seperti empat anggota Satuan Tugas (Satgas) Antimafia Bola Polri yang dihadirkan sebagai saksi dalam persidangan di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan dengan terdakwa mantan Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Joko Driyono.

    “Kalau JPU dan hakim ikut masuk angin, gawat,” ungkapnya di Jakarta, Rabu (29/5/2019).

    Sebelumnya, empat anggota Polri dari Satgas Antimafia Bola yang dihadirkan sebagai saksi dalam sidang lanjutan perkara tindak pidana umum dengan terdakwa Joko Driyono di PN Jaksel, Selasa (28/5/2019), tidak dapat memastikan bahwa barang-barang bukti yang disita dari kantor PT Liga Indonesia berkaitan dengan penyidikan perkara match fixing atau pengaturan skor sepak bola. Itulah yang oleh Indro disebut sebagai “masuk angin”.

    Empat anggota Satgas yang menjadi saksi pada sidang ketiga kasus ini adalah Pudjo Prasetyo, I Gusti Ngurah Putu Kresna, Riyanto Sulistya, dan Franciscus Manalu. Dalam persidangan mereka mengakui kedatangan mereka ke kantor PT Liga Indonesia di kawasan Rasuna Said, Kuningan, Jaksel, dalam rangka penggeledahan ruangan Komisi Disiplin (Komdis) PSSI, sebagai lanjutan dari perkara dugaan match fixing yang dilaporkan oleh Lasmi Indaryani, dalam perkara terpisah.

    Dihubungi terpisah, mantan Koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW) yang kini Wakil Direktur Visi Integritas Emerson Juntho mengaku sejak awal khawatir kasus ini akan kandas di pengadilan. “Sejak awal saya memang khawatir kasus ini akan kandas di pengadilan,” ujarnya.

    Sebab, kata Emerson, tidak ada koordinasi yang kuat antara Satgas Antimafia Bola dan pihak kejaksaan terkait perkara match fixing ini. “Bahkan enggak ada koordinasi,” tegasnya.

    Indro kemudian mendesak JPU harus bisa membuktikan dakwaan yang sudah disusunnya, meskipun untuk itu mereka harus bekerja ekstra-keras. Begitu pun hakim yang nanti akan menjatuhkan vonis.

    “Terdakwa ini ibarat belut kecemplung oli yang sangat lihat berkelit. Jika JPU dan hakim tidak waspada, bisa jadi mereka tak dapat membuktikan perbuatan pidana yang dilakukan terdakwa,” pintanya.

    Indro juga mendesak JPU harus bisa membuktikan bahwa perusakan barang bukti oleh terdakwa Joko Driyono terkait dengan perkara macth fixing yang kemungkinan juga akan menjeratnya.

    “Dari langkah terdakwa menyuruh saksi merusak barang bukti sudah bisa dibaca motifnya. Itu pasti terkait match fixing,” cetusnya.

    Bila Joko Driyono sampai bebas di pengadilan, Indro khawatir perubahan di tubuh PSSI yang diharapkan masyarakat sepak bola Indonesia akan tinggal impian belaka. “PSSI tetap dalam posisi status quo,” tandasnya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Atlet E-Sport, Jadi Miliarder Berkat Hobi Bermain Video Game

    Dunia permainan digital sudah bukan tidak bisa dipandang sebelah mata. Kini, para atlet e-sport mampu meraup miliar rupiah hasil keterampilan mereka.