Rafael Nadal, Jimmy Connors, dan Militansi Petenis Tangan Kiri

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petenis Spanyol, Rafael Nadal berusaha mengembalikan bola ke arah lawannya, petenis Jerman, Yannick Maden dalam laga babak kedua turnamen Prancis Terbuka di Roland Garros, Paris, Rabu, 29 Mei 2019. REUTERS/Christian Hartmann

    Petenis Spanyol, Rafael Nadal berusaha mengembalikan bola ke arah lawannya, petenis Jerman, Yannick Maden dalam laga babak kedua turnamen Prancis Terbuka di Roland Garros, Paris, Rabu, 29 Mei 2019. REUTERS/Christian Hartmann

    TEMPO.CO, Jakarta - Sejumlah petenis dunia dengan pegangan raket tangan kiri saat memukul atau mengembalikan bola memiliki kesamaan ciri khas, yaitu tampil ekspresif saat bertanding dan militan. Rafael Nadal yang baru saja mengguncang pertenisan dunia dengan menjuarai Grand Slam Prancis Terbuka di lapangan tanah liat Roland Garros, Paris, Minggu 9 Juni 2019, terkenal ngotot saat bertanding.

    Ciri yang sama juga ada pada petenis tangan kiri yang legendaris pada masa lalu, antara lain Jimmy Connors, John McEnroe, serta petenis wanita, Martina Navratilova dan Monica Seles.

    Bisa kebetulan atau tidak, petenis putra Amerika Serikat sekarang menurun pamornya sejak tidak ada lagi para pemain dengan pukulan tangan kiri yang menonjol lagi setelah era Connors dan McEnroe.

    Nadal sebenarnya bukan kidal. Tapi, sejak kecil, ia diarahkan untuk memegang raket dengan tangan kiri karena merasa lebih nyaman.

    Pegangan raket yang di luar kebiasaan menstimulir Nadal untuk bekerja lebih keras saat bertanding. Ditambah bakat kualitas tenisnya yang menurut sang paman, Toni Nadal, sebenarnya tidak terlalu bagus, membuat Rafael mengutamakan semangat juang dan militansi ketika bertarung.

    Toni Nadal adalah pelatihnya sejak kecil sampai mulai melegenda di Prancis Terbuka. Posisi Toni tersebut kemudian digantikan oleh bintang tenis Spanyol pada masa lalu, Carlos Moya, sejak 2017.

    Seiring dengan perbaikan dan pengembang kemampuan teknisnya, sikap ngotot Nadal dalam berkompetisi dan bertanding sudah mendarahdaging.

    Pemegang rekor Grand Slam 59 kali, Martina Navratilova memberikan arahan pada sejumlah anak dalam klinik kepelatihan ANZ Meet the Legends di Hotel Hyatt Jakarta, Rabu (20/11). TEMPO/Seto Wardhana

    Kalah atau menang, perilaku Nadal yang habis-habisan di lapangan akan selalu menarik simpati penonton. Hal ini yang juga terjadi dengan Connors, terutama pada Grand Slam Amerika Serikat Terbuka.

    Pertandingan Connors pada era senja kariernya para periode 1990-an di Flushing Meadows, New York, masih menjadi magnet buat ribuan penonton untuk menyaksikannya. Demikian juga McEnroe, apalagi pada masa jayanya, mantan suami aktris Tatum O’Neal ini terkenal temperamental di lapangan.

    Penampilan McEnroe yang kontroversial di lapangan mengingatkan kepada aksi petenis Australia, Nick Kyrgios, sekarang. Tapi, bedanya prestasi dan kehebatan McEnroe masih jauh di atas Kyrgios.

    Sedikit berbeda dengan petenis wanita kidal ternama sekarang, seperti Angelique Kerber dan Petra Kvitova, penampilan Navratilova dan Seles di lapangan lebih ekspresif dan “garang”.  

    Itu sebabnya, Rafael Nadal juga beberapa kali dijuluki gladiator-nya tenis modern. Ketika di lapangan, ia seakan-akan sudah siap bertarung sampai akhir hayatnya. Ini seperti Jimmy Connors yang menjadi ikon Amerika Serikat Terbuka pada masa lalu.

    Kemenangan Rafael Nadal melawan Dominic Thiem di Stadion Philippe Chartrier, Roland Garros, Paris, Minggu 9 Juni 2019, membuat petenis Spanyol ini sudah mengoleksi 18 gelar juara Grand Slam atau tinggal dua gelar lagi untuk menyamai prestasi Roger Federer.

    Petenis Swiss berusia 37 tahun yang legendaris ini, Roger Federer, ini adalah saingan abadi Rafael Nadal. Ia kebalikan dari Nadal, tampil tenang dan dingin. Ini mengingatkan pada tipikal lawan para petarung tangan kiri Connors, McEnroe, Navratilova, dan Seles pada masa lalu, antara lain Bjorn Borg, Stefan Edberg, dan Steffi Graf.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.