3 Atlet Bulu Tangkis Asing Berdarah Indonesia yang Berprestasi

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Atlet bulu tangkis Belanda, Alyssa Tirtosentono. (instagram/@alyssa_tirto)

    Atlet bulu tangkis Belanda, Alyssa Tirtosentono. (instagram/@alyssa_tirto)

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia dikenal sebagai negara yang memiliki kekuatan lebih dalam cabang olahraga bulu tangkis. Atlet-atlet berbakat dan berprestasi silih berganti muncul dari tanah air.

    Dalam deretan legenda bulu tangkis kita antara lain ada Rudy Hartono, Liem Swie King, Christian Hadinata, Susy Susanti, dan Taufik Hidayat. Saat ini sejumlah nama juga mampu jadi yang terbaik di dunia, termasuk Marcus Gedeon/Kevin Sanjaya Sukamuljo.

    Tak hanya di dalam negeri, bakat dan prestasi juga ditunjukkan oleh pemain yang memiliki dari Indonesia di kancah dunia. Berikut tiga pemain bulu tangkis asing yang memiliki darah Indonesia dan berperan cukup penting di negaranya:

    Yuhan Tan

    Yuhan Tan adala atlet bulu tangkis Belgia yang memiliki darah Indonesia. Pemain kelahiran 1987 tersebut terlahir dari ayah yang berdarah Indonesia, tepatnya berasal dari Bandung, dan ibu asli Belgia. Yuhan, yang merupakan pemain ganda putra, fasih berbahasa Indonesia.

    Baca: Bulu Tangkis: 2 Pemain Indonesia yang Memilih Membela Negara Lain

    Selama membela Belgia, Yuhan telah menorehkan sejumlah prestasi lumayan. Ia menjadi pebulutangkis tunggal putra termuda yang berhasil lolos ke Olimpiade Beijing 2008 silam. Ia sudah 3 kali menjadi Runner-Up BWF International Challenge, yakni di Austria (2012), Brasil (2013), dan Amerika (2015).

    Dalam turnamen BWF International Series, ia berhasil 2 kali menjadi juara, yakni di Turki tahun 2013 dan 2015. Sementara di BWF Future Series, ia berhasil naik podium satu kali.

    Selanjutnya: Alex Yuwan Tjong dan Alyssa Tirtosentono


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.