Cabang eSports Belum Dapat Lampu Hijau untuk Tampil di Olimpiade

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi eSports. (esportsobserver.com)

    Ilustrasi eSports. (esportsobserver.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Harapan eSports untuk menjadi cabang olahraga yang memperebutkan medali di arena Olimpiade belum juga mendapat kepastian. Lampu hijau belum diberikan oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC).

    ESports sebenarnya sudah diakui sebagai olahraga. Meskipun berbentuk virtual, IOC sudah menyepakati bahwa game merupakan sebuah kegiatan olahraga.

    Dalam Asian Games 2018 lalu, eSports sudah ditampilkan sebagai cabang eksibisi. Dalam Asian Games berikutnya, di Cina pada 2022, cabang itu akan resmi dipertandingkan untuk memperebutkan medali. Kebetulan salah satu sponsor Asian Games tersebut adalah persusahaan eSports, Alisports.

    Namun, untuk level olimpiade pintu belum terbuka untuk cabang olahraga ini. Panitia Olimpiade Paris 2024 sempat menyatakan akan menimbang untuk menyertakan cabang ini untuk bisa memperebutkan medali. Namun, restu dari IOC belum muncul.

    Pada Desember 2018 lalu, IOC sudah menyatakan keraguannya untuk menyertakan eSports dalam pesta olahraga dunia empat tahunan itu. Terutama karena game-game yang biasa dipertandingkan, seperti Clash Royale, League of Legends, juga Arena of Valor, dinilai sarat dengan kekerasan. IOC menegaskan bahwa studi lanjutan diperlukan sebelum menyertakan cabang itu untuk memperebutkan medali Olimpiade.

    Perusahaan teknologi terkemuka, Intel, pekan lalu baru bertemu dengan IOC untuk mendiskusikan masalah ini. Scott Gillingham, Bos Intel Inggris, menyatakan belum ada hasil kongkrit dari pembicaraan itu. "Kami membuka diri dan kami bicara dengan IOC agar mereka bisa mengerti apa eSports dan apa potensinya. Tapi, keputusan sepenuhnya ada di tangan mereka," kata dia.

    Menurut Newzoo Global Esports Market Report 2019, pendapatan dari eSports sudah melewati US$ 1 miliar (Rp 14,2 triliun) dengan audien mencapai 450 juta.

    SPORTS PRO | BBC | CAECILIA EERSTA 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.