Tie-Break Set 5 Wimbledon, Cegah Djokovic Vs Federer Lebih Brutal

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO.CO, Jakarta - Novak Djokovic tak perlu lagi meladeni Roger Federer dalam pertarungan epik pada final tunggal putra tenis Wimbledon 2019 di London, dinihari tadi, Senin 15 Juli, sampai berhari-hari. Atau, bisa lebih dari lima jam, jika tak diberlakukan tie-break setelah 12-12 pada set kelima.

    Ketika kedudukan 12-12 pada set kelima, pertarungan yang bisa akan lebih kejam di bagian tunggal putra Grand Slam ini seperti yang pernah terjadi, sudah diantipasi. Panitia Wimbledon 2019 sudah jauh-jauh hari, memutuskan ada tie-break setelah 12-12.

    Pertarungan tie-break biasa terjadi pada set pertama, kedua, dan ketiga setelah kedudukan 6-6. Ini untuk pertarungan tunggal putra pada seri turnamen di bawah kategori Grand Slam.

    Dalam tie-break, jika petenis mencapai poin ketujuh lebih dulu dan sudah unggul dua angka atau lebih atas lawannya, ia memenangi set itu.

    Untuk Grand Slam pertarungan masih akan berlanjut sampai set keempat dan berakhir, jika kedudukan keseluruhan 3-1. Namun bila 2-2, dilanjutkan pada set kelima sebagai penentuan.

    Pada set penentuan ini, sebelum tie-break diberlakukan setelah skor 12-12 pada set kelima pada Wimbledon 2019, turnamen tenis tertinggi di dunia untuk jenis lapangan rumput ini beberapa kali menghadirkan pertarungan “kejam” pada set kelima.

    Sebelum 2019, tidak ada tie-break pada set kelima tunggal putra di Wimbledon. Dan, pada babak 16 besar pergelaran 2017, Rafael Nadal baru bisa menghentikan perlawan Gilles Muller pada skor 15-13. Jika belum terwujud selisih dua angka itu, pertarungan akan berlanjut terus.

    Reekor pertarungan terlama pada set kelima tunggal putra Wimbledon terjadi pada 2010, John Isner dari Amerika Serikat mengalahkan Nicolas Mahut pada babak pertama di angka 70-68. Skor lengkapnya, 6-4, 3-6, 6-7 (7-9), 7-6 (7-3), dan 70-68.

    Dengan segala pernik yang sempat menunda jalannya pertarungan itu, Isner dan Mahut bertanding dari Selasa sampai Kamis atau tiga hari.

    Sejak turnamen akbar lapangan rumput ini dimulai di Center Court, All England Lawn Tennis & Croquet Club, London, Inggris, pada babak kualifikasi, 24 Juni lalu, para petenis tunggal putra sudah mendapat informasi baru di Wimbledon 2019 ini.    

    Wimbledon tahun ini dan sebelumnya memang spesial. Berbeda dengan seri Grand Slam lainnya, mereka menetapkan struktur pemain unggulan tidak berdasarkan peringkat dunia yang dimiliki pemain. Tapi, berdasarkan catatan prestasi selama ini di sana.

    Itu sebanya Roger Federer yang kini menempati peringkat ketiga dunia ditempatkan sebagai unggulan kedua di atas Rafael Nadal, peringkat dua dunia. Hanya Djokovic yang sejalan dengan posisinya sebagai pemain nomor satu dunia karena ia memang punya catatan bagus di Wimbleon dan juara bertahan.

    Meski demikian, dinihari tadi, Novak Djokovic etap seperti dipaksa Federer untuk melewati batas kemampuannya pada laga final Wimbledon 2019.

    Kemenangan Novak Djokovic baru bisa dipastikan setelah terjadi tie-break 12-12 pada set kelima. Pada ujung pertarungan itu, Federer sudah menurun dan kalah 3-7.

    Tapi, sebelum menurun itu, Federer yang sedang memburu gelar kesembilan di Wimbledon memberikan perlawanan hebat. Dan, yang tidak kalah penting, teriakan yang mendukung Federer lebih bergema dibandingkan yang memihak Djokovic.

    Pada usia 37 tahun 340 hari, Federer juga sedang berusaha menjadi pemain tertua pada era tenis terbuka yang memenangi gelar tunggal putra Grand Slam. Federer nyaris mencapainya karena setidaknya ia sudah mencapai match point dua kali pada set kelima sebelum terjadi tie-break 12-12.

    Pertandingan berlangsung dari Minggu sampai Senin dinihari tadi waktu Indonesia, 15 Juli 2019. Juara bertahan dan pemain nomor satu dunia dari Serbia itu mengalahkan Federer asal Swiss 7-6 (7-5), 1-6, 7-6 (7-4), 4-6, 13-12 (7-3) dalam pertarungan epik lebih dari empat jam.

    Pada set keempat, Roger Federer sudah unggul 5-2. Tapi, Djokovic mampu menahan Federer untuk menyamakan kedudukan secara keseluruhan. Petenis Serbia itu mengejar balik sampai 4-5. Pada saat kritis seperti itu, Federer berhasil keluar dari tekanan dan memimpin 30-0 sebelum memenangi game ke-10 itu.

    Pertandingan pada set kelima berjalan lebih menegangkan. Federer menyamakan kedudukan menjadi 4-4 dan mengganti raketnya. Petenis Swiss ini kemudian memimpin 5-4. Djokovic pantang menyerah dan menyamakan kedudukan 5-5. Federer unggul lagi 6-5.

    Pertarungan klimaks ini berjalan alot sampai 30-30 pada game ke-11 set kelima dan kemudian terjadi deuce setelah 40-40. Ketika pukulan pengembalian Djokovic melebar kedudukan menjadi 6-6 pada set penentuan.

    Federer kemudian unggul lagi 7-6 dan disamakan Djokovic 7-7. Pertandingan secara maraton ini terus berjalan seru dan menegangkan. Federer memimpin 8-7. Tapi, Djokovic memperlihatkan kalibernya sebagai pemain nomor satu dunia ini ganti mematahkan servis Federer sehingga kedudukan menjadi 8-8. Djokovic kemudian dengan cepat unggul 30-0 sebelum ganti memimpin 9-8.

    Roger Federer terus bertahan mengimbangi Djokovic 9-9. Dua petenis dunia ini bermain sampai ke puncak batas kemampuan terbaik mereka. Djokovic unggul 10-9. Giliran Federer memegang servis dan kemudian menjadi 10-10. Ini menuju pertarungan sensasional: tie-break jika skor 12-12!

    Novak Djokovic giliran melakukan pukulan servis. Ia memimpin 30-15 sebelum memenangi game ke-21 sehingga skor menjadi 11-10 untuk keunggulan petenis Serbia ini. Bayangan tie-break kian dekat ketika Federer selanjutnya memimpin 30-15 pada game ke-22. Skor menjadi 11-11 pada set kelima. Set penentuan ini sudah berjalan 100 menit.

    Novak Djokovic unggul 40-0 pada saat memegang servis. Federer belum habis 15-40 dan kemudian menjadi 30-40. Lantas deuce setelah 40-40. Federer meraih advantage. Deuce lagi dan ganti Djokovic yang meraih advantage sebelum deuce lagi. Untuk keempat kali terjadi deuce. Novak Djokovic tak membuat kesalahan lagi untuk mengamankan keuntungannya sehingga memimpin 12-11. Federer terus bertarung gigih untuk memaksakan tie-break setelah skor 12-12.

    Novak Djokovic melesat 4-1 dalam tie-break sebelum Federer mendapat giliran melakukan pukulan servis. Belum ada kata menyerah. Federer mengejar 2-4 dan kemudian 3-4 sebelum Djokovic melakukan servis.

    Djokovic di ambang kemenangan dengan memimpin 6-3 dalam tie-break set kelima setelah kedudukan 12-12. Djokovic tinggal butuh satu angka lagi saat Federer memegang servis. Dan, terjadilah, 7-3 untuk Novak Djokovic.

    Pertarungan ini patut dikenang sebagai salah satu pertandingan tenis terhebat yang pernah ada. Buat Novak Djokovic, 32, ini adalah gelar kelimanya di lapangan rumput Wimbledon dan menyamai prestasi Bjorn Borg dari Swedia. Sedangkan Roger Federer gagal untuk memenuhi ambisinya yaitu memenangi Wimbledon kesembilan kalinya.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.