Tinju Dunia: Oleksandr Usyk, Si Penari di Ring Tinju Kelas Berat

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petinju Ukraina, Oleksandr Usyk. (instagram/@usykaa)

    Petinju Ukraina, Oleksandr Usyk. (instagram/@usykaa)

    TEMPO.CO, Jakarta - Oleksandr Usyk mulai muncul dalam percaturan perebutan gelar juara tinju dunia kelas berat. Petinju Ukraina berusia 32 tahun itu berharap bisa jadi penantang pemenang tarung ulang Anthony Joshua vs Andy Ruiz Jr.

    Dengan berlaga di kelas berat, Usyk harus naik kelas. Ia pun kemungkinan harus menanggalkan gelar juara dunia kelas jelajah WBO, WBC, dan IBF yang digenggangmnya sejak 2016.

    Usyk bisa jadi lawan tangguh bagi petinju kelas berat. Ia sejauh ini belum terkalahkan dalam 16 pertarungan termasuk 12 kali menang KO.

    Ia sendiri mengaku lebih memilih untuk melawan Joshua dengan alasan ingin melawan yang terbaik untuk menjadi yang terbaik. Joshua sendiri baru kehilangan juara dunia kelas berat WBA, IBF, dan WBO karena dikalahkan Ruiz pada 1 Juli lalu. Keduanya dijadwalkan akan melakukan tarung ulang pada akhir tahun ini.

    Lalu, siapa sosol Oleksandr Usyk yang menyeruakdi antara persaingan kedua petinju kelas berat itu? Ia memiliki jejak karier yang menarik. Ia awalnya adalah pemain sepak bola muda yang berbakat. Pria kelahiran Kiev ini bermain sepak bola hingga ia berusia 15 tahun, dia berada dibawah asuhan akademi klub Liga Premier Ukraina saat itu, SC Tavriya Simferopol.

    Pada 2002, ia memutuskan untuk beralih ke tinju dan memulai karier amatirnya empat tahun kemudian. Usyk sempat dua kali mewakili negaranya di Olimpiade, yaitu di Beijing, Cina, pada 2008, dan pada di London pada 2012. Pada 2008, Usyk kalah dari Clemente Russo, sedangkan pada 2012 ia berhasil memenangkan medali emas di London.

    Penggemar tinju dunia akan ingat Usyk karena selebrasinya yang unik setelah meraih emas olimpiade itu. Selebrasi berupa tarian itu disebut-sebut yang pertama terjadi di ring tinju dunia.

    Pada 2012, selain memenangi medali emas di London, ia juga berhasil mendapatkan kehormatan sebagai amatir terbaik di dunia dari Asosiasi Tinju Internasional. Usyk kemudian terjun ke tinju profesional dan berlaga di kelas jelajah. Dalam pertandingan pertamanya, melawan Felipe Romero, ia berhasil memenangkan pertandingan melalui TKO.

    Setelah capaian debutnya itu, dirinya terus merengkuh kemenangan hingga Usyk berhasil memenangkan gelar interim WBO Inter-Continental pada pertarungan kelimanya. Hal ini seperti yang dilansir dari The Sun.

    Usyk adalah petinju pertama yang pernah memegang empat sabuk secara bersamaan di divisi kelas penjelajah Dia mengambil gelar WBO setelah berhasil melawan Krzysztof Glowacki pada 2016. Ia kemudian menambahkan gelar WBC setelah berhasil melawan Mairis Briedis, dan gelar WBA dan IBF setelah berhasil mengalahkan Murat Gassiev di Moskow.

    Dengan torehan dan kemampuan yang dimilikinya ini, Usyk dapat menjadi lawan yang tidak mudah bagi pemegang sabuk tinju dunia kelas berat.

    THE SUN | CORAL | RIDWAN KUSUMA AL-AZIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.