Ketika Atlet Tenis Meja Mengeluhkan Dualisme Pengurus PTMSI

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • David Jacob (berbaju hijau) saat bertanding melawan Muhammad Ardha Yuana pada Turnamen Tenis Meja Nasional Piala Universitas Terbuka yang diadakan di Kampus Universitas Terbuka, Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang pada 15 hingga 17 Agustus 2019. Sabtu, 17 Agustus 2019. TEMPO/Ridwan Kusuma Al-Aziz

    David Jacob (berbaju hijau) saat bertanding melawan Muhammad Ardha Yuana pada Turnamen Tenis Meja Nasional Piala Universitas Terbuka yang diadakan di Kampus Universitas Terbuka, Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang pada 15 hingga 17 Agustus 2019. Sabtu, 17 Agustus 2019. TEMPO/Ridwan Kusuma Al-Aziz

    TEMPO.CO, Jakarta – Para atlet tenis meja merasa dirugikan dengan kisruh berkepanjangan yang terjadi di induk olahraga tenis meja. Persoalan dualisme kepemimpinan di Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia (PTMSI) yang terjadi sejak 2013 tidak kunjung selesai menghambat perkembangan tenis meja di Tanah Air.

    Salah satu atlet tenis meja nasional, M. Zahru Nailufar, menyebutkan salah satu kerugian yang bisa dirasakan adalah persiapan SEA Games 2019 di Filipina. Menjelang pesta olahraga tingkat ASEAN dua tahunan yang akan dihelat pada 30 November - 11 Desember nanti, tim tenis meja tak ada persiapan serius.

    "Jadi buat SEA Games masih belum jelas atletnya siapa,” kata Zahru saat ditemui di sela-sela mengikuti turnamen Tenis Meja Nasional Universitas Terbuka bekerja sama dengan Tempo atau Tenis Meja UT-Tempo, Sabtu, 17 Agustus 2019.

    Petenis yang kini tengah kuliah program sarjana di bidang manajemen itu berpendapat, seharusnya kisruh di PTMSI tidak perlu berkepanjangan. Menurut dia, pengurus di PTMSI lebih baik fokus pada penjaringan atlet berbakat untuk regenerasi atlet. Ia sendiri mengaku pernah batal bermain di salah satu turnamen lantaran dualisme kepengurusan di PTMSI.

    “Harusnya tiap generasi itu ada, jadi Indonesia itu nggak mati tenis mejanya, Cuma yang menjadi kendala itu ya kepengurusannya sekarang, coba kalo kepengurusannya satu, itu bangus banget.” ujarnya.

    Petenis meja senior, David Jacob mengungkapkan hal senada. Ia merasa kecewa karena kisruh di tubuh PTMSI tidak kunjung selesai.

    Buntut kisruh itu, menurut David, berdampak pada atlet. Ia mencontohkan, ada atlet yang bagus dan sering menang di sejumlah kejuaraan tidak bisa masuk ke tim nasional karena terkendala dualisme kepemimpinan di PTMSI.

    “Harusnya kan (PTMSI) bisa ngeliat mana yang sering juara mana yang kemampuannya baik untuk menjadi timnas," kata dia saat mengikuti turnamen tenis meja UT-Tempo, Sabtu, 17 Agustus 2019.

    Ia menambahkan, dalam pemilihan atlet timnas, seharusnya dilakukan dengan cara yang tepat demi menjaga regenerasi demi kemajuan tenis meja Indonesia. “Sayang sebenarnya, bibit banyak, peminat tenis meja juga banyak, pertandingan juga banyak, tapi kalau hasilnya yang di luar (timnas) itu nggak maksimal,” kata peraih medali emas Asian Para Games 2019.

    Ia berharap pemerintah turun tangan dalam menyelesaikan kisruh di PTMSI agar segera berakhir. “Harusnya pemerintah itu jadi penengah, harus bisa nyelesaiin (masalah) tenis meja Indonesia," kata David yang kini berstatus PNS Disorda DKI Jakarta itu.

    David menambahkan, tidak akan ada artinya banyak pertandingan dengan taburan atlet yang andal, jika pemilihan tim nasional tidak dilakukan secara maksimal. Hasilnya, kata dia, tidak akan baik untuk Indonesia.

    RIDWAN KUSUMA AL-AZIZ


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Poin Revisi UU KPK yang Disahkan DPR

    Tempo mencatat tujuh poin yang disepakati dalam rapat Revisi Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 atau Revisi UU KPK pada 17 September 2019.