Ada 36 Negara Tampil di Kejuaraan Tenis Meja Asia 2019

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petenis meja Fikri Faqih Fadilah (kiri) dan Novida Widarahman (kanan). (Sumber: Antara Foto)

    Petenis meja Fikri Faqih Fadilah (kiri) dan Novida Widarahman (kanan). (Sumber: Antara Foto)

    TEMPO.CO, Jakarta - Indonesia kembali menggelar Kejuaraan Tenis Meja Asia 2019 atau SSP 24th ITTF Asian Table Tennis Championship. Terakhir kali Indonesia menjadi tuan rumah Kejuaraan Asia pada 1982.

    Ketua Panitia Pelaksanan Pertandingan Muchlis Marliono mengatakan ada 36 negara yang akan berpartisipasi dalam kejuaraan ini. Berdasarkan data per 1 September yang dimiliki panitia para pemain yang berada di peringkat 20 besar dunia dipastikan berpartisipasi.

    "Pada kejuaraan ini ada dua divisi yang dilombakan. Divisi Championship akan diikuti oleh petenis meja peringkat 1-6 dunia. Sedangkan Divisi I akan diikuti pemain di luar peringkat itu," kata Muchlis mengutip Antara, Senin, 2 September 2019.

    Menurut dia, pemain Indonesia akan mengikuti Divisi I. "Pemenang dari Divisi 1 akan main di Divisi Championship," sebut Muchlis.

    Adapun negara peserta yang terdaftar di antaranya Cina, Hongkong, Korea Selatan, Korea Utara, Mogolia, Malaysia, Singapura, Thailand. Lalu Oman, Arab Saudi, Yaman, Afganistan, Tajikistan dan Iran. Sedangkan pemain kelas dunia yang turun di antaranya Chen Meng untuk putri dan untuk putra adalah Xu Xin. Keduanya merupakan peringkat satu dunia.

    Sementara itu salah satu atlet tenis meja Indonesia, Fikri Faqih Fadilah, mengatakan sudah siap meski kejuaraan di Yogyakarta ini adalah kejuaraan internasional keduannya. Pemain asal Bandung ini mengaku akan berusaha mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

    "Sekalian mencari pengalaman. Yang jelas saya akan berusaha," kata Fikri yang baru menginjak usia 13 tahun itu.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.