Polemik Audisi Djarum, KPAI : Promosi Tingkatkan Perokok Pemula

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty (kanan), memberikan keterangan kepada wartawan mengenai proses Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis 2019 PB Djarum di Purowkerto, usai melakukan pertemuan dengan Pemkab Banyumas di Pendopo Bupati Banyumas, Jateng, Senin 9 September 2019. KPAI masih menemukan logo Djarum yang dianggap merupakan unsur eksploitasi anak terselubung pada audisi di Purwokerto, sedangkan pihak Pemkab Banyumas menyatakan sudah tidak ditemukan unsur eksploitasi anak pada audisi tersebut, sehingga masih bisa dilanjutkan. ANTARA FOTO/Idhad Zakaria

    Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty (kanan), memberikan keterangan kepada wartawan mengenai proses Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis 2019 PB Djarum di Purowkerto, usai melakukan pertemuan dengan Pemkab Banyumas di Pendopo Bupati Banyumas, Jateng, Senin 9 September 2019. KPAI masih menemukan logo Djarum yang dianggap merupakan unsur eksploitasi anak terselubung pada audisi di Purwokerto, sedangkan pihak Pemkab Banyumas menyatakan sudah tidak ditemukan unsur eksploitasi anak pada audisi tersebut, sehingga masih bisa dilanjutkan. ANTARA FOTO/Idhad Zakaria

    TEMPO.CO, Jakarta- Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menjelaskan sikap tegasnya melarang pemakaian logo rokok pada anak di Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis 2019. Komisioner KPAI Sitti Hikmawatty mengatakan dari hasil riset ada kenaikan perokok pemula dari usia anak. 

    Sitti menjelaskan dari hasil riset Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada 2013, jumlah anak menjadi perokok pemula sekitar 7,2 persen. Jumlah itu meningkat menjadi 9,1 persen pada Riskesdas tahun 2018. "Padahal di RPJMN 2019 ditargetkan jumlah prevalensi perokok pemula turun menjadi 5,4 persen," ujar Sitti kepada Tempo, Senin, 9 September 2019.

    Menurut dia, bertambahnya jumlah perokok pemula itu akibat promosi rokok yang masih masif termasuk kepada anak. Sitti menilai salah satu promosi rokok ialah yang dikemas dalam beasiswa, yakni audisi badminton Djarum yang diadakan Djarum Foundation.

    "Tubuh anak dijadikan tempat promosi gratis dengan memasang logo Djarum. Bahkan setelah ditegur pun masih menggunakan logo Djarum pada nomor punggung anak-anak pada audisi di Purwokerto," sebut Sitti. 

    Ia menyatakan KPAI melakukan survei di 28 provinsi dan menanyakan jika mendengar kata Djarum misalnya, apa yang ada dalam benak anak-anak. Sebanyak satu persen anak-anak mengasosiasikan kata Djarum sebagai alat menjahit. Mantan tim kesehatan kontingen Indonesia di SEA Games Chiang Mai 1995 ini mengatakan 31 persen anak menyebut Djarum sebagai audisi umum beasiswa bulu tangkis. "Sisanya 68 persen anak mengatakan Djarum adalah rokok," ungkap dia.

    Untuk Audisi Beasiswa Bulu Tangkis, kata Sitti, telah dibahas pada rapat di Kemenpolhukam bersama Djarum Foundation. Ia menyebutkan pada rapat itu membagi beberapa kategori seleksi atlet yakni terbuka maupun tertutup.

    Ada pula yang disiarkan dan tidak disiarkan. "Sudah dibahas dalam rapat dengan Kemenkopolhukam bahwa akan diubah format seleksinya," ujar Sitti.

    Pertemuan di Kemenpolhukam berlangsung pada tanggal 4 September 2019. Hadir pula Kementerian Pemuda dan Olah raga yang ingin merangkul unsur swasta dalam pembinaan atlet. "Tetapi tidak melanggar aturan yang sudah ada," kata Sitti.

    Sebelumnya, Djarum Foundation menyatakan akan menghentikan Audisi Umum Beasiswa Bulu Tangkis. Direktur Program Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, mengatakan audisi badminton PB Djarum pada 2019 menjadi yang terakhir kalinya digelar.

    IRSYAN HASYIM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tujuh Poin Revisi UU KPK yang Disahkan DPR

    Tempo mencatat tujuh poin yang disepakati dalam rapat Revisi Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 atau Revisi UU KPK pada 17 September 2019.