PBSI Serahkan Sanksi Praveen Jordan ke Pelatih

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pasangan bulu tangkis ganda campuran Indonesia, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti. (badmintonindonesia.org)

    Pasangan bulu tangkis ganda campuran Indonesia, Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti. (badmintonindonesia.org)

    TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal (Sekjen) Pengurus Pusat Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) Achmad Budiharto meminta kepada seluruh atlet yang berada di pemusatan latihan nasional (Pelatnas) agar taat pada aturan. Peringatan tersebut disampaikan menanggapi insiden salah satu atlet Pelatnas yang melanggar waktu latihan.

    Pria yang akrab disapa Budi ini menilai pelanggaran yang dilakukan oleh pebulu tangkis ganda campuran, Praveen Jordan, merupakan hal lumrah. Namun tindakan tersebut tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.

    “Sebetulnya, di semua Pelatnas juga pasti pernah terjadi pelanggaran seperti itu. Kejadian itu bisa dikatakan biasa, tapi memang tetap harus diantisipasi. Misalnya dengan memperketat penjagaan di Pelatnas dan lain-lain,” kata Budi, Rabu, 9 Oktober 2019.

    Sebelumnya, Praveen disebut-sebut meninggalkan asrama Pelatnas PBSI tanpa mendapat izin dari pelatih. Ia baru tiba di Pelatnas pada malam hari dan tidak mengikuti sesi latihan pagi pada Senin, 7 Oktober lalu.

    Budi menuturkan ihwal sanksi yang akan diberikan kepada Praveen Jordan diserahkan sepenuhnya kepada pelatih ganda campuran, yakni Richard Mainaky. Menurut dia, sanksi bisa saja berlanjut ke Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres) PBSI Susy Susanti hingga ke Sekjen.

    “Masalah ini akan kami evaluasi dulu. Yang pasti, semua atlet Pelatnas harus disiplin dan tidak boleh seenaknya sendiri. Harus ikut aturan di Pelatnas PBSI,” sebut Budi.

    ANTARA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.