PSSI Harus Benahi Sepak Bola Tingkat SSB, Bukan Mimpi Piala Dunia

Reporter:
Editor:

Ariandono

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim pelajar Sekolah Sepakbola (SSB) Bhayangkara, mewakili Provinsi Banten masuk 16 besar Liga Berjenjang Sepak Bola Pelajar U-14 Piala Menpora.

    Tim pelajar Sekolah Sepakbola (SSB) Bhayangkara, mewakili Provinsi Banten masuk 16 besar Liga Berjenjang Sepak Bola Pelajar U-14 Piala Menpora.

    TEMPO.CO, Jakarta - Ary Julianta Tridjaka makin mantap untuk melangkah sebagai calon anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI 2019-2024.

    Ary memarkan misi dan visinya di hadapan media di Jakarta, Rabu (9/10). Wartawan senior olahraga ini tak muluk-muluk atau 'jual kecap' untuk memuluskan langkahnya.

    "Kita tak perlu bermimpi ke Piala Dunia. Benahi dulu sepak bola kita dari akar rumput. Saat ini banyak Sekolah Sepak Bola atau SSB. Berarti segudang cikal bakal pemain tumpah di sana. Nah selama ini tidak tersentuh oleh PSSI," papar Ary Julianta yang ingin memperhatikan sepak bola akar rumput jika kelak terpilih sebagai Exco PSSI.

    Ary yang selama 20 tahun meliput sepak bola nasional maupun internasional sangat paham tentang pembinaan sepak bola usia dini. Urusan yang satu ini, dia sudah cukup kenyang makan asam garam.

    Ary bertekad menghidupkan SSB pada tempatnya. Artinya SSB harus memiliki kapasitas atau kejelasan di PSSI. Sementara selama ini harus diakui kurang mendapat perhatian. PSSI cuma menjangkau level klub. Padahal SSB merupakan 'sumur utama' pembinaan sepak bola.

    "Saya ingin mengoneksikan bagaimana klub dan SSB berjalan dengan baik. Tanpa memperbaiki akar rumput sepak bola kita sulit untuk menggapai prestasi. Jadi saya tidak perlu kampanye muluk-muluk untuk maju sebagai Exco PSSI," ujarnya.

    Ary, meniti karier sebagai wartawan olahraga sejak 1996. Saat ini menjabat sebagai Direktur Pemberitaan Breakingnews.co.id. Anggota pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) DKI Jaya ini juga menyoroti soal pelatih.

    Sejauh ini dia melihat banyak generasi baru yang mungkin lebih segar dengan berlisensi kepelatihan A, B AFC Pro. Mereka punya standar yang cukup tinggi. Tapi, sayangkan kata Ary mereka tidak 'terpakai' lantaran keberadaan pelatih asing yang sejatinya cuma menang nama besar negaranya.

    "Seharusnya ini tak boleh terjadi. Generasi muda yang melek dengan ilmu pengetahun harus mendapat kesempatan. Sayang sekali kalau potensi mereka tidak tersalurkan," imbuhnya.

    Dengan kompetensi pelatih yang semakin baik, Ary yakin kualitas para pemain di Indonesia juga akan ikut berkembang. "Karena dengan lebih banyak pelatih berkualitas kita bisa menciptakan lagi pemain yang lebih banyak lagi di seluruh Indonesia dan berkualitas juga," kata dia.

    Di sisi lain, Ary juga mengakui prestasi sepak bola usia muda kita cukup membanggakan. Tapi, mereka acap mentok ketika melangkah ke timnas senior. Menurutnya ini sebuah pertanyaan besar yang harus bisa dijawab dengan tuntas.

    "Saya melihat ada kesalahan dalam pembentukan pelatnas jangka panjang. Seharusnya PSSI membentuk tim yang siap pakai. Ketika mereka memiliki persiapan yang relatif pendek, hasilnya tentu susah diharapkan. Mungkin harus dilakukan perubahan dalam menyinergikan pelatnas. Kita tahu kompetisi Eropa persiapannya pendek, tapi pemainnya siap tempur. Di sini persiapan pendek, pemain tidak siap," sebutnya.

    Kongres PSSI untuk menentukan 15 Exco PSSI 2019-2024 akan dilangsungkan di Jakarta 2 November 2019. Ke-15 Exco terdiri atas seorang ketua umum, dua wakil ketua umum, serta 12 anggota.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Demo Revisi UU KPK Berujung Rusuh, Ada 1.365 Orang Ditangkap

    Demonstrasi di DPR soal Revisi UU KPK pada September 2019 dilakukan mahasiswa, buruh, dan pelajar. Dari 1.365 orang yang ditangkapi, 179 ditahan.