Komisi X DPR: Perlu Regulasi Lebih Ketat Soal Atlet Naturalisasi

Reporter:
Editor:

Ariandono

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pesepak bola asal Brasil Fabiano da Rosa Beltrame (kanan) bersama pemain basket asal Amerika Serikat Peyton Alexis Whitted (tengah) menghadiri raker Komisi X DPR dengan Kemenpora di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 7 November 2019. Dalam raker tersebut, keduanya diminta untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan mengucapkan teks Pancasila. ANTARA/Nova Wahyudi

    Pesepak bola asal Brasil Fabiano da Rosa Beltrame (kanan) bersama pemain basket asal Amerika Serikat Peyton Alexis Whitted (tengah) menghadiri raker Komisi X DPR dengan Kemenpora di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 7 November 2019. Dalam raker tersebut, keduanya diminta untuk menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan mengucapkan teks Pancasila. ANTARA/Nova Wahyudi

    TEMPO.CO, Jakarta- Anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Irine Yusiana Roba berharap Menteri Pemuda dan Olahraga, Zainudin Amali dan DPR bisa mengodok regulasi yang tepat perihal naturalisasi atlet. Politikus PDI Perjuangan ini mempertanyakan komitmen pemerintah untuk melakukan pembinaan olharga.
    "Setiap saat lakukannaturalisasi pemain, ini tantangan untuk Pak menteri yang baru," kata dia usai rapat kerja komisi X dengan Menpora di Gedung DPR, Jakarta, Kamis, 7 November 2019.

    Dalam rapat kerja itu ditetapkan juga pemain Persib Bandung Fabiano Beltrame,37 tahun dan atlet basket putri Peyton Alexis Whitted, 24 tahun sebagai warga negara Indonesia. Mereka mendapat suara bulat dari 23 anggota Komisi X yang mengikuti rapat kerja.

    Irine berharap perlu dilakukan redefenisi program naturalisasi atlet ini. Kalau memang harus melakukan naturalisasi indikator seperti apa yang harus dipenuhi. "Nanti perlu juga kita beri masukan lebih detail kepada Pak Menteri bahwa kalau naturalisasi kita buat aturan jelas paling tidak usianya berapa," kata dia.

    Menurut dia, proses pembinaan atlet yang berjenjang perlu terus digenjot supaya ke depannya kebijakan naturalisasi tidak diperlukan lagi. Ia menjelaskan tidak menolak naturalisaai jika syarat dan indikator demi kemajuan olahraga bisa terpenuhi. "Kalau memang perlu karena ada postifnya juga syarat yang ketat itu apa, supaya kita tidak kecolongan, dia punya motif lain," kata dia.

    Untuk proses naturalisasi Fabiano, kata Irine, walaupun telah berumur 37 tahun tetap disetujui karena melihat pengabdian dia selama 14 tahun berada di Indonesia. Untuk Peyton yang baru empat bulan berada di Indonesia, ia menjelaskan tetap diterima untuk keperluan timnas basket putri di SEA Games 2019. "Karena kita butuh," kata dia berharapa perlu ada regulasi yang lebih ketat untuk kebijakan naturalisasi.

    IRSYAN HASYIM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.