Indonesia Berharap Dayung dan Balap Sepeda Lolos Olimpiade 2020

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kepala Kontingen Olimpiade 2020, Rosan P. Roeslani saar ditemui di Kantornya Recapital Building, Jakarta Selatan, Senin, 6 Januari 2020. TEMPO/Irsyan Hasyim

    Kepala Kontingen Olimpiade 2020, Rosan P. Roeslani saar ditemui di Kantornya Recapital Building, Jakarta Selatan, Senin, 6 Januari 2020. TEMPO/Irsyan Hasyim

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Kontingen (CdM) Indonesia untuk Olimpiade 2020, Rosan P. Roeslani, berharap Merah Putih dapat menambah perwakilan atletnya untuk tampil di Tokyo melalui cabang olah raga balap sepeda dan dayung. Saat ini sudah ada empat tiket diraih. Selain itu sejumlah tiket dari bulu tangkis dan angkat besi masih bisa menjadi milik Indonesia.

    "Kami berharap satu atau dua cabor lagi untuk bisa lolos, yaitu sepeda dan juga mungkin dayung juga diharapkan lolos, tapi kami masih menunggu," ujar Rosan di Kantor Kemenpora, Jakarta, Kamis.

    Rosan yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Angkat Berat, Binaraga, dan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABBSI) itu mengatakan, kedua cabang olahraga tersebut memiliki potensi besar untuk bersaing lolos olimpiade 2020, sama seperti cabor unggulan lainnya seperti bulu tangkis dan angkat besi.

    Kendati begitu, ia juga masih menunggu hasil akhir jumlah cabang olahraga yang lolos, mengingat kualifikasi olimpiade masih akan berlangsung hingga April mendatang.

    Peluang itu menurutnya masih terbuka lebar. Pasalnya, pada cabang balap sepeda, misalnya, tim Indonesia berpeluang besar meloloskan atlet BMX ke ajang tersebut, terlebih Indonesia kini berada di peringkat ke-19 dunia.

    Melalui metode peringkat per negara, Indonesia masih memiliki banyak waktu hingga April mendatang untuk mendongkrak poin agar bisa berada di urutan 11 besar dunia, yang merupakan syarat lolos olimpiade.

    Sementara itu pada cabang dayung, Indonesia merupakan salah satu negara yang cukup diperhitungkan di Asia. Terbukti pada ajang Asian Games 2018, tim dayung Indonesia berhasil meraih satu medali emas, dua perak, dan dua perunggu.

    Terakhir kali, pada SEA Games 2019 di Filipina, tim dayung Indonesia juga sukses menyabet gelar juara umum dengan perolehan 10 medali emas, empat perak, dan tiga perunggu dari total 19 medali emas yang diperebutkan.

    Dengan demikian, prestasi tersebut setidaknya dapat menjadi harapan bagi Merah Putih untuk menambah perwakilan atletnya di ajang olimpiade, di luar cabang unggulan lain seperti bulu tangkis dan angkat besi.

    Lebih dari satu emas

    Menjadi kepala kontingen di olimpiade 2020, Rosan bertekad Indonesia dapat melampaui capaian satu medali emas yang diraih di Olimpiade 2016 di Rio de Janeiro, Brasil. Namun, ia tak menyebutkan jumlah spesifik dari medali yang ditargetkan karena masih harus menunggu keputusan akhir dari setiap cabang olahraga.

    "Pokoknya Insya Allah lebih baik daripada Olimpiade 2016, targetnya itu. Di Brasil kan (mendapat) satu emas dari bulutangkis dan dua perak dari angkat besi," katanya.

    Untuk menghindari permasalahan saat SEA Games 2019 terulang, pada Januari ini, Rosan akan berkeliling ke pengurung cabang olahraga terkait pembahasan kualifikasi olimpiade dan pengajuan proposal anggaran kepada Kemenpora.

    Ia meminta kepada seluruh cabor untuk segera menuntaskan proposal anggarannya pada Januari ini demi mempercepat proses pencairan dana.

    "Karena April semua cabor harus melaporkan ada berapa orang (yang lolos kualifikasi). Harapan kami tentu harus segera selesai. Jangan telat setelah itu teriak-teriak tidak diturunkan dananya," tuturnya.

    Hingga saat ini, baru empat atlet yang dipastikan lolos ke Olimpiade 2020 Tokyo. Mereka adalah Lalu Muhammad Zohri di cabang atletik, Vidya Rafika di cabang menembak, dan dua atlet cabang panahan dari nomor recurve putra dan putri.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.