Kimia Alizadeh Berlatih Taekwondo di Belanda sejak Desember

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kimia Alizade.[Instagram/kimiya.alizade]

    Kimia Alizade.[Instagram/kimiya.alizade]

    TEMPO.CO, JakartaKimia Alizadeh, atlet putri pertama Iran yang meraih medali Olimpiade, menyatakan membelot ke Eropa karena tidak tahan diskriminasi terhadap perempuan di negerinya.

    Kimia Alizadeh saat ini berada di kota Eindhoven, Belanda. Ia bergabung dengan atlet taekwondo lain berlatih untuk Olimpiade Tokyo tahun ini. 

    "Alizadeh telah berlatih bersama kami sejak 18 Desember," kata Mimoun El Boujjoufi, pelatih taekwondo di Eindhohoven, Senin, 13 Januari 2020.

    "Dia tiba di Belanda disertai oleh suaminya," kata Boujjoufi kepada AFP.

    Kantor Berita semi resmi Iran, ISNA, pada Kamis, 9 Januari 2020, mengabarkan, Alizadeh telah bermigrasi ke Belanda. Atlet taekwondo ini dalam unggahan di akun Instagramnya, tidak menyebut posisinya saat ini.

    "Sampai kapanpun, saya tetap anak Iran," katanya.

    Alizadeh menjadi atlet populer di Iran sejak ia meraih medali perunggu dalam Olimpiade 2016. Ia berniat tetap tampil di Olimpiade 2020, namun tidak lagi atas nama Iran.

    "Haruskah saya mulai dengan halo, selamat tinggal, atau belasungkawa?" tulis Alizadeh dalam akun Instagram.

    Kimia Alizadeh, 21 tahun, mengatakan, perlakuan pemerintah Iran terhadap wanita, termasuk dirinya, sebagai kekuatan utama yang mendorong pembelotannya ke Eropa. Alizadeh mendapatkan medali perunggu di kelas berat 57 kilogram taekwondo di Olimpiade 2016 dan memenangkan medali perak di Kejuaraan Taekwondo Dunia 2017.

    Menurut RadioFreeEurope, Alizadeh diperkirakan masih akan mencoba untuk tampil Olimpiade 2020 di Tokyo dengan tim negara yang berbeda.

    Alizadeh tidak menyebutkan dalam unggahan Instagramnya di mana dia berada atau apa rencananya di masa depan, meskipun dia mengatakan bahwa perhatiannya saat ini adalah taekwondo, keamanan, dan kehidupan yang sehat dan bahagia.

    "Saya salah satu dari jutaan wanita yang tertindas di Iran selama bertahun-tahun," tulis Alizadeh dalam unggahan berbahasa Arab. “Mereka membawa saya ke mana pun mereka mau. Apa pun yang mereka katakan, saya jalankan. Setiap kalimat yang mereka pesan, saya ulangi.”

    Dia juga menuduh pemerintah Iran mengeksploitasi keberhasilannya sekaligus mengutuknya sebagai seorang wanita. 

    Konfirmasi kepergiannya terjadi beberapa hari setelah gelombang protes pecah di Iran, Sabtu, 11 Januari 2020, menyusul pengakuan Teheran telah menembak jatuh pesawat sipil Ukraina yang menewaskan 176 orang.

    Kimia Alizadeh juga mengatakan dia tidak diundang untuk membelot ke Eropa.

    DUTCHNEWS | BUSINESSINSIDER


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Komentar Yasonna Laoly Soal Harun Masiku: Swear to God, Itu Error

    Yasonna Laoly membantah disebut sengaja menginformasikan bahwa Harun berada di luar negeri saat Wahyu Setiawan ditangkap. Bagaimana kata pejabat lain?