Mantan Pebulu Tangkis Tati Sumirah Meninggal

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain bulu tangkis Tati Sumirah, Jakarta, 1971. dok.TEMPO

    Pemain bulu tangkis Tati Sumirah, Jakarta, 1971. dok.TEMPO

    TEMPO.CO, Jakarta - Mantan pebulu tangkis Tati Sumirah meninggal pada Kamis, 13 Februari 2020 pukul 22.30 WIB. Salah satu pahlawan penentu kemenangan Indonesia untuk pertama kali merebut Piala Uber 1975 itu tutup usia di 68 tahun setelah menjalani perawatan selama sembilan hari di ICU RSUP Persahabatan, Rawamangun, Jakarta Timur.

    Berita duka ini dikabarkan oleh Reza Aditya Pratama, keponakan Tati. Reza yang selama ini mendampingi Tati sejak pertama kali dirawat di rumah sakit karena kadar gula darah yang tinggi dan bermasalah pada paru-paru.

    "Berita duka, telah meninggal dunia Ibu Tati Sumirah pada hari ini, Kamis, 13 Februari 2020 jam 22.30. Mohon dibukakan pintu maaf segala dosa-dosanya dan semoga arwahnya husnul khatimah," tutur Reza dikutip dari keterangan yang diterima, Jumat pagi, 14 Februari 2020.

    Mantan pebulu tangkis kelahiran Jakarta, 9 Februari 1952 ini kondisinya kritis sejak masuk rumah sakit pada Selasa, 4 Februari lalu. Tati tidak sadarkan diri hingga menghembuskan napas terakhirnya.

    Pemain bulu tangkis Indonesia Tati Sumirah melawan pemain bulu tangkis Australia Sue Daly dalam pertandingan bulu tangkis single putri di Istora Senayan, Jakarta, 1980 .dok.TEMPO

    Jenazah akan dimakamkan di TPU Kemiri Utan Kayu, Rawamangun, Jakarta Timur, setelah salah Jumat. Jenazah akan diberangkatkan dari rumah duka di Jalan H. Djubris RT 10 RW 08 No.52 Kalurahan Jatinegara, Kecamatan Cakung, Jakarta Timur.

    "Kami merasa sangat kehilangan atas meninggalnya Tati Sumirah. Dia tidak saja pahlawan bagi klub Tangkas, tetapi juga untuk bulutangkis Indonesia. Berkat dedikasinya, Indonesia pertama kali bisa merebut Piala Uber tahun 1975," kata Wakil Ketua PB Tangkas Jakarta, Juniarto Suhandinata.

    Menurut Juniarto, sebagai pebulu tangkis, performa Tati maju pesat sejak bergabung ke klub Tangkas Jakarta 1966. Tati juga seorang pemain yang gigih. Saban latihan, dia selalu ditemani sang ayah, Sugrisno.

    Tati sangat rajin berlatih. Puncak kariernya diukir sewaktu dia mempersembahkan Piala Uber pada 1975. Dia menjadi satu-satunya pemain tunggal putri yang mempersembahkan angka kemenangan buat tim putri Indonesia.

    Dalam babak final di Istora Senayan, Jakarta, 6 Juni 1975, Indonesia sukses merebut Piala Uber setelah menang 5-2 atas juara bertahan Jepang. Tati sukses menyumbangkan poin kemenangan dengan menekuk Atsuko Tokuda, 11-5, 11-2. Sementara, rekannya Theresia Widiastuti dikalahkan Hiroe Yuki, 7-11, 1-11 dan Utami Dewi dijegal Noriko Nakayama, 5-11, 3-11.

    Namun, di empat partai ganda, pemain tuan rumah tampil hebat. Pasangan Regina Masli/Minarni Sudaryanto menggusur Etsuko Takenaka/Machiko Aizawa, 15-6, 6-15, 15-9. Lalu, Imelda Wigoena/Theresia Widiastuti menang atas Hiroe Yuki/Mika Ikeda, 15-4, 15-9. Berikutnya, Regina/Minarni mengatasi perlawanan Hiroe Yuki/Mika Ikeda, 15-8, 15-11, dan Imelda/Theresia menggulingkan Etsuko Takenaka/Machiko Aizawa, 17-14, 15-0.

    "Semangat juang, dedikasi tanpa pamrih, dan totalitas Tati untuk kejayaan prestasi bulutangkis Indonesia layak menjadi suri teladan dan sumber inspirasi bagi para pemain bulu tangkis Indonesia saat ini," kata Juniarto menambahkan.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perbedaan Rapid Test, Swab, dan TB-TCM dalam Deteksi Virus Corona

    Ada tiga tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi virus corona di dalam tubuh, yaitu dengan Rapid Test, Swab, atau metode TB-TCM. Simak perbedaannya.