Tokyo Marathon Tak Lagi Terima Peserta Umum karena Virus Corona

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sepasang kekasih kostum saat mengikuti  Tokyo Marathon 2017 di Tokto, Jepang, 26 Februari 2017. Ap/Shizuo Kambayashi

    Sepasang kekasih kostum saat mengikuti Tokyo Marathon 2017 di Tokto, Jepang, 26 Februari 2017. Ap/Shizuo Kambayashi

    TEMPO.CO, Jakarta – Salah satu ajang maraton besar dunia, Tokyo Marathon, membuat kebijakan berbeda dari sebelumnya karena merebaknya virus corona. Lomba lari tahunan ini akan tertutup bagi peserta umum dan hanya akan diikuti 212 peserta elit dunia.

    Sebelumnya, sebanyak 38.000 peserta diperkirakan akan hadir untuk mengikuti lomba ini. Maklum, Tokyo Marathon merupakan salah satu ajang maraton besar dunia yang digelar di Asia.

    Pihak dari Tokyo Marathon Foundation telah mengkonfirmasi hari Senin lalu waktu setempat bahwa Tokyo Marathon hanya dibuka untuk para pelari profesional. Putusan itu dibuat setelah ditemukannya kasus baru dari virus corona di Jepang.

    Panitia mengatakan bahwa mereka tidak dapat melanjutkan kegiatan dalam skala yang yang semula direncanakan. Marathon yang dijadwalkan pada 1 Maret, tetap akan dilaksanakan karena Marathon Tokyo ini adalah perlombaan uji coba Olimpiade untuk para atlet elit.

    Tercatat, pada partai laki-laki di Tokyo Marathon hanya akan dihadiri oleh 133 atlet elit, 11 atlet internasional yang diundang, dan 11 atlet Jepang yang diundang. Sementara pada partai wanita, akan ada 43 atlet elit dan 14 atlet internasional yang diundang.

    Kebijakan panitian ini membuat peserta yang gagal berpartisipasi kecewa. Pelari Aly Dixon dari Inggris mengatakan bahwa ia kini dalam kesulitan karena nilai uang yang sudah ia habiskan untuk rencana perjalanan ini.

    “Saya telah membayar banyak uang untuk pergi dan berlari, jika agenda itu dibatalkan, sepertinya saya akan tetap pergi karena saya tidak mampu membuang uang itu karena pengembalian pun juga tidak bisa.”

    Cristoper Warnick dari Brooklyn juga mengatakan perlombaan ini akan menjadi Abbott Marathon keenamnya sebelum ia berusia 60 tahun, namun ia harus menghapus Tokyo Marathon dari daftarnya karena kesehatan lebih penting dari pada perlombaan. “Benar-benar mengecewakan. Menjalankan enam maraton besar adalah salah satu impian banyak pelari jarak jauh.”

    Jepang memiliki jumlah kasus korona tertinggi di luar Cina. Hingga Senin, virus ini sudah menewaskan sedikitnya 1.775 orang.

    Tokyo Marathon adalah maraton terbaru dalam daftar acara atletik yang dibatalkan, ditunda, atau dipindahkan jadwalnya karena penyebaran virus corona. Sebelumnya, Hong Kong Marathon yang dijadwalkan 9 Februari juga dibatalkan. Kejuaraan Dunia Atletik Indoor di Nanjung, Cina, ditunda hingga Maret 2021, dan masih banyak ajang lari lainnya yang dibatalkan.

    “Ini adalah contoh lain dari bagaimana virus korona memiliki dampak global di luar masalah kesehatan,” kata William schaffner, seorang spesialis penyakit menular di Vanderbilt.

    Sementara itu, pada pertemuan di Tokyo minggu lalu, presiden komite penyelenggara Olimpiade Tokyo, Yoshiro Moru, bersikeras Olimpiade akan tetap berlanjut, “Saya ingin sekali menyatakan dengan jelas bahwa pembatalan atau penundaan Olimpiade Tokyo belum dipertimbangkan.”

    CNBC | NYTIMES | MARATHON TOKYO | NURUL FARA

     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Drone Pemantau Kerumunan dari Udara selama Wabah Covid-19

    Tim mahasiswa Universitas Indonesia merancang wahana nirawak untuk mengawasi dan mencegah kerumunan orang selama pandemi Covid-19.