Tinju Dunia: Wilder Akan Dibayar Agar Duel Fury Vs Joshua Tewujud

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tyson Fury Vs Deontay Wilder, Sabtu, 22 Februari 2020. (Mickey Williams/Top Rank)

    Tyson Fury Vs Deontay Wilder, Sabtu, 22 Februari 2020. (Mickey Williams/Top Rank)

    TEMPO.CO, JakartaDeontay Wilder berjanji akan bangkit dan merebut kembali gelar tinju dunia kelas berat dari Tyson Fury. Namun, ia kini justru ramai-ramai disarankan minggir agar pertarungan lain yang lebih menarik terjadi. Ia bahkan berpeluang dibayar agar mau melakukan itu.

    Wilder, petinju Amerika yang baru kehilangan sabuknya dua pekan lalu, menyapa penggemar lewat akun media sosialnya, Kamis. Ia menyatakan siap bangkit.

    Ia menyebut penggemar dengan orang-orangku, pasukan bomku. "Aku hanya ingin memberitahumu bahwa aku di sini. Rajamu ada di sini dan kita tidak ke mana-mana, karena perang baru saja dimulai. Aku akan bangkit lagi. Aku kuat. Aku seorang raja, kamu tidak bisa mengambil harga diriku. Aku seorang petarung. Aku seorang raja yang tidak akan pernah menyerah. Aku seorang raja yang akan berjuang hingga mati," kata Wilder.

    Ia melanjutkan, "Dan jika ada orang yang tidak mengerti itu, tidak mengerti apa artinya pergi berperang, tidak mengerti apa artinya bertarung, kami akan bangkit kembali. Kita akan mendapatkan kembali gelar itu. Aku akan kembali. Kita akan kembali. Angkat kepala kita tinggi-tinggi."

    Wilder, 34 tahun, kehilangan gelarnya dalam duel ulangan di Las Vegas, Amerika, 22 Februari lalu. Ia dijatuhkan dua kali oleh Tayson Fury, asal Inggris, lalu lempar handuk di ronde ketujuh.

    Ia kemudian menyatakan akan menggunakan klausa kontraknya dengan Fury untuk melakukan tarung ulang ketiga. Duel versiketiga itu diperkirakan akan berlangsung Juni atau Juli.

    Namun, kini suara-suara yang muncul justru menyarankan Wilder minggir dan memberi kesempatan terjadinya duel unifikasi gelar antara Fury dan Anthony Joshua, juara kelas berat lain asal Inggris.

    David Higgins, promotor petinju kelas berat Joseph Parker, menyarankan Fury menghindari tarung ulang dengan Wilder dan memilih melawan Joshua. Ia juga meminta agar Wilder tidak egois dengan bersikeras meminta tarung ulang.

    "Semua orang ingin melihatnya (Fury melawan Joshua), tidak ada yang ingin melihat Fury - Wilder 3," kata Higgins kepada IFL TV. "Jika Wilder memaksa dia menjadi egois. Untuk Deontay Wilder, tidak ada yang ingin melihat pertarungan ketiga sekarang antara kamu dan Fury, jangan egois, biarkan dunia melihat Fury vs Joshua."

    Ia menyebut saat ini sudah muncul wacana untuk memberi uang bagi Wilder untuk sekedar minggir. Higgins menyarankan Wilder menerimanya. "Jika orang-orang seperti Arab Saudi menjatuhkan beberapa ratus juta, itu bisa menjadi hari gajian terbesar Anda, bahkan tanpa bertarung, jadi tidak ada alasan (untuk berkeras melawan Fury)."

    Eddy Hearn, promotor Joshua, juga menyampaikan seruan serupa buat Wilder. "Jika saya Deontay Wilder, saya tidak benar-benar ingin (berarung lagi melawan Fury) sampai September, Oktober," kata dia.

    Ia melanjutkan, saat ini ada beberapa skenario yang mungkin. Nomor satu adalah membiarkan Joshua dan Fury bertarung pada bulan Juni atau Juli, dan kemudian Wilder bertarung dengan pemenang pada bulan November, Desember. Atau, Wilder dan Fury bertarung di bulan Juli, dan Joshua bertarung dengan pemenang. Atau yang lain adalah membiarkan Joshua dan Fury bertarung di bulan Oktober, dan kemudian Wilder bertarung dengan pemenang di bulan Januari atau Februari.

    "Tapi Anda (Wilder) harus duduk selama hampir satu tahun. Tetapi segala sesuatu dapat dipecahkan dengan uang. Kamu tahu apa yang saya maksud bukan?" kata Hearn.

    Eddy Hearn menyebut tak keberatan membayar Wilder untuk minggir karena akan ada begitu banyak uang terlibat dalam duel Joshua vs Tyson Fury.

    BOXING SCENE


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jokowi Marah karena Tersulut Lambatnya Stimulus Kredit

    Presiden Joko Widodo geram karena realisasi anggaran penanganan pandemi masih minim. Jokowi marah di depan para menteri dalam sidang kabinet.