Pandemi Corona, Ketua ATP Ragu Jadwal Tenis Berlanjut Agustus

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi petenis AS, Serena Williams setelah gagal mendapatkan poin dalam laga melawan petenis Cina, Qiang Wang dalam Australia Terbuka di Melbourne Park, Australia, 24 Januari 2020. REUTERS/Kai Pfaffenbach

    Ekspresi petenis AS, Serena Williams setelah gagal mendapatkan poin dalam laga melawan petenis Cina, Qiang Wang dalam Australia Terbuka di Melbourne Park, Australia, 24 Januari 2020. REUTERS/Kai Pfaffenbach

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua ATP Andrea Gaudenzi mengaku ragu kompetisi tenis dunia musim ini dapat dilanjutkan pada Agustus, setelah ditangguhkan sejak pertengahan Maret akibat pandemi virus corona (COVID-19).

    "Tidak seorang pun tahu kapan kami dapat kembali bermain dalam kondisi aman sepenuhnya. Berbicara mengenai Agustus, September, November semua itu hipotesis, kita tidak dapat membenturkan kepala ke tembok untuk sesuatu yang mungkin tidak akan terjadi karena kami bisa saja baru bisa memulai kembali (kompetisi) pada tahun depan," ucap Gaudenzi seperti dikutip AFP.

    Secara pribadi, Gaudenzi cukup optimistis musim kompetisi dapat kembali dilanjutkan pada Agustus. "Saya sedikit optimistis mengenai (kompetisi dimulai kembali pada) musim gugur, dan bahkan agak yakin pada musim panas," ucap pria 43 tahun itu.

    Menurutnya jika kompetisi tenis dapat kembali digelar pada Agustus, maka mereka dapat "menyelamatkan" tiga ajang Grand Slam dan enam kompetisi Masters 1000.

    Saat ini semua turnamen ATP dan WTA ditangguhkan sampai 13 Juli akibat pandemi corona. Setelah sebelumnya salah satu Grand Slam yakni Wimbledon harus dibatalkan untuk pertama kalinya sejak Perang Dunia II.

    Keputusan untuk membatalkan Grand Slam paling tua itu disusul dengan digesernya jadwal French Open, yang biasanya dimainkan pada Mei sampai Juni menjadi September sampai Oktober.

    Gaudenzi menuturkan bahwa idealnya ATP akan memainkan empat turnamen di lapangan tanah liat pada musim gugur setelah berlangsungnya US Open, yakni dengan memainkan turnamen di Madrid, Roma, dan French Open.

    Digesernya jadwal French Open tanpa konsultasi dengan pemangku kepentingan tenis lainnya sempat membuat gusar banyak pihak. Meski demikian, Gaundezi mengatakan ATP tidak akan menjatuhkan sanksi terhadap French Open.

    "Tenis memerlukan persatuan, Paris bertindak seperti itu karena ketakutan, mereka melakukan kesalahan. Namun mereka telah menyadarinya," yakin Gaundezi.

    Gaundezi juga menyatakan pihaknya tidak mengabaikan para petenis dan turnamen ATP dengan peringkat lebih rendah, dan menegaskan pihaknya juga mempelajari pendekatan finansial yang dapat diaplikasikan.

    "Sistem kami solid. Ini bisa menjadi satu tahun tanpa tenis, tapi tidak lebih dari itu," yakinnya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Warung Makan

    BPOM memberi petunjuk mengenai penerapan new normal di berbagai tempat. Ada enam rekomendasi ikhwal tatanan baru ketika mengunjungi warung makan.