Kasus George Floyd, McGregor: Tidak Ada Tempat untuk Rasisme

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petarung MMA, Conor McGregor. Reuters

    Petarung MMA, Conor McGregor. Reuters

    TEMPO.CO, Jakarta - Petarung UFC, Conor McGregor, mengutuk kekerasan yang dialami George Floyd oleh polisi Amerika Serikat.

    “Tidak ada tempat untuk ketidakadilan, rasisme, dan intoleransi di dunia ini!' kata McGregor dalam akun Instagram, 1 JUni 2020.

    "Kita harus benar-benar mendengarkan dan belajar dari mereka yang kesakitan. Jadilah contoh perubahan yang ingin Anda lihat !!"

    "Berdoa, berharap, dan percaya setiap hari bahwa ini semua adalah bagian dari rencana Tuhan untuk membawa kita ke masa depan yang lebih baik dan lebih cerah di masa depan. Semoga."

    Tewasnya Floyd menimbulkan kemarahan di seantero Amerika. Unjuk rasa terjadi di berbagai kota dan beberapa di antaranya diwarnai pengrusakan dan penjarahan.

    Berikut ini kronologi penangkapan hingga tewasnya Floyd:

    Berdasarkan transkrip percakapan telepon pelapor dengan operator 911 dan rekaman kamera pengawas di lokasi kejadian yang direkonstruksi New York Times, George Floyd dituduh berbelanja dengan uang palsu pecahan USD 20 (sekitar Rp 290 ribu) dan dituduh dalam pengaruh alkohol.

    Dua polisi bernama J. Alexander Kueng dan Thomas Lane terlihat di rekaman CCTV dan mendekati mobil SUV yang ditumpangi Floyd. Lane tiba-tiba menarik pistol di sisi pintu penumpang samping pengemudi dan mengeluarkan Floyd.

    Kueng langsung membantu Lane memborgol Floyd yang masih berdiri di sisi pintu dan menyuruhnya duduk di trotoar lalu menanyai identitas Floyd.

    Enam menit awal penangkapan, Floyd dibawa ke belakang mobil polisi sementara mobil polisi lain terlihat mendekat. Floyd terjatuh dengan tangan diborgol.

    Pada 9 menit dari awal penangkapan, mobil polisi yang baru tiba ditumpangi oleh petugas Derek Chauvin dan Tou Thao. Saat itu Floyd menolak masuk ke mobil karena dirinya mengaku klaustrofobia.

    Chauvin kemudian membantu dua petugas yang melumpuhkan Floyd. Kamera CCTV menangkap petugas Kueng bergelut dengan Floyd di kursi belakang mobil polisi dengan diawasi petugas Thao.

    Floyd kemudian dirobohkan ke aspal dengan posisi tertelungkup. Pada momen ini seorang pejalan kaki merekam empat polisi menindih tubuh Floyd di samping mobil polisi. Petugas Derek Chauvin dan J. Alexander Kueng menindih tubuh Floyd dengan lututnya, sementara petugas Thao berdiri di sampingnya.

    Pada pukul 8:20 pm terdengar suara Floyd untuk pertama kalinya dan meringis. "Saya tidak bisa bernapas bung, tolong," kata Floyd memohon.

    Video berhenti ketika petugas Thomas Lane meminta pejalan kaki yang merekam untuk menjauhi tempat kejadian perkara.

    Petugas polisi memanggil radio darurat ketika untuk EMS Code 2 atau bantuan medis segera.

    "Bisakah kita mendapat EMS Code 2? kita mendapat pendarahan dari mulut," kata polisi dalam panggilan radionya.

    "Diterima," jawab operator.

    Tiba-tiba petugas memanggil radio EMS Code 3 atau bantuan darurat medis segera.

    Kemudian ada pejalan kaki lain berusia 70 tahun merekam kejadian tersebut dari sudut berbeda. Dalam video tersebut, meski sudah meminta bantuan medis Code 3, Chauvin masih menindih leher Floyd selama 7 menit.

    "Apa yang kau inginkan," kata petugas polisi kepada Floyd yang tercekik di aspal belakang bumper mobil polisi.

    "Saya tidak bisa bernapas. Tolong lutut di leher saya...saya tidak bisa bernapas," pinta Floyd.

    "Kalau begitu bangun dan masuk ke dalam mobil, bung," kata polisi.

    "Saya bersedia," balas Floyd.

    "Bangun dan masuk ke mobil," bentak polisi.

    "Saya tidak bisa bergerak," kata Floyd yang masih dicekik dengan lutut Chauvin.

    Floyd sempat meringis kesakitan dan berteriak "Mama" ketika polisi masih membentaknya dan lehernya ditekan lutut.

    "Saya tidak bisa..." jawab Floyd.

    Dari kedua video jarak dekat yang direkam pejalan kaki tampak Floyd mengatakan kepada polisi dirinya tidak bisa bernapas sedikitnya 16 kali.

    Derek Chauvin tetap menindih leher Floyd meski dia sudah tidak bergerak dan menutup mata pada pukul 8:25 pm.

    Terdengar suara para pejalan kaki di latar video agar polisi melepaskan lutut dari George Floyd. "Ada apa dengan kalian semua?" teriak salah satu pejalan kaki.

    Proses penangkapan pria keturunan Afro-Amerika bernama George Floyd, 46 tahun, saat dibekuk polisi Derek Chauvin pada Senin 25 Mei lalu. George Floyd tewas setelah lehernya ditindih yang menyebabkan kehabisan nafas. dailymail.co.uk

    Derek Chauvin masih menekan lututnya ke leher Floyd yang sudah tidak responsif selama 5 menit. Sementara petugas lain menghadang para saksi dan beradu mulut dengan mereka.

    "Bro, dia sudah tidak bergerak!" kata seorang pria ke polisi.

    "Apakah mereka membunuhnya bro?" tanya seorang perempuan.

    Warga yang beradu mulut dengan polisi meminta polisi untuk memeriksa nadi Floyd. 20 menit sejak menit pertama penangkapan ambulans tiba di lokasi kejadian. Petugas medis darurat yang tiba segera memeriksa nadi Floyd.

    Petugas Derek Chauvin tetap menekan lututnya ke leher George Floyd yang tidak bergerak dan baru melepaskannya ketika disuruh oleh petugas medis yang tiba.

    Derek Chauvin menindih leher George Floyd selama total 8 menit 46 detik, menurut dokumen aduan terhadap Chauvin.

    Ambulans kemudian membawa George Floyd ke rumah sakit terdekat di mana dia dinyatakan meninggal pada pukul 9:25 pm.

    ESSENTIALY SPORT | NEW YORK TIME


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Anggaran Rp 28,5 Triliun untuk Gaji Ke-13 di Bulan Agustus 2020

    Pemerintah menyalurkan gaji ke-13 PNS pada Senin, 10 Agustus 2020. Ada sejumlah kelompok yang menerima gaji itu dari anggaran Rp 28,5 triliun.