WADA Selidiki Kasus Penggunaan Doping Cabang Angkat Besi

Reporter:
Editor:

Arkhelaus Wisnu Triyogo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pervitin, obat-obatan yang dipasok ke pasukan NAZI dalam PD II. (Credit: Thirteen Productions LLC/Livescience)

    Pervitin, obat-obatan yang dipasok ke pasukan NAZI dalam PD II. (Credit: Thirteen Productions LLC/Livescience)

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Anti-Doping Dunia (WADA) menindaklanjuti dugaan penggunaan doping yang mengakar di sejumlah torehan rekor angkat besi dunia versi Federasi Angkat Besi Internasional (IWF). Penyelidikan ini dilakukan berdasar temuan penyelidikan yang dipimpin Richard McLaren baru-baru ini.

    Awal Juni lalu, McLaren dan timnya mendapati 40 temuan analitik positif yang merugikan di antara rekor-rekor IWF. Temuan itu mengindikasikan federasi telah selama puluhan tahun dibekap praktik korupsi dan praktik penyelewengan doping.

    Temuan itu mencakup sejumlah peraih medali emas dan perak yang sampel tes doping yang tak ditindaklanjuti. "WADA terkejut dengan perilaku yang terungkap dari hasil investigasi tim McLaren," kata Presiden WADA Witold Banka dalam pernyataan yang dilansir Reuters, Selasa 16 Juni 2020.

    "WADA mengutuk segala bentuk campur tangan dalam prosedur anti-doping. Pengungkapan ini jelas menjadi tamparan bagi para atlet yang bersih, bagi WADA dan mereka yang mendukung kampanye olahraga bersih," ujarnya menambahkan.

    Investigasi McLaren menyatakan bahwa mantan presiden IWF Tamas Ajan menggunakan politik uang untuk menjalankan praktik penyelewengan doping. Berdasarkan temuan itu, pengelolaan dan sumber dana utama berasal dari denda doping yang masuk ke kantungnya sendiri.

    Tamas Ajan, laki-laki asal Hongaria berusia 81 tahun, berkecimpung di federasi angkat besi tertinggi di dunia sejak pertengahan 1970-an. Awalnya, dia menduduki kursi sekretaris jenderal dan mulai menjadi presiden mulai 2000 hingga mundur April lalu. WADA pun menyatakan informasi yang mereka terima meliputi data periode 2009-2014 dan bakal menggelar penyelidikan yang diprioritaskan untuk kasus-kasus yang dekat dengan batasan statuta.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.