Masa PSBB Transisi, Pelti Gelar Pelatnas Putri di GBK

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tim tenis Indonesia Priska Nugroho, Aldila Sutjiadi, Janice Tjen, Jessie Rompies dan Beatrice Gumulya . (Instagram/Priska Nugroho)

    Tim tenis Indonesia Priska Nugroho, Aldila Sutjiadi, Janice Tjen, Jessie Rompies dan Beatrice Gumulya . (Instagram/Priska Nugroho)

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim tenis putri sudah mulai berlatih di Gelora Bung Karno (GBK) Senayan, Jakarta. Ketua Umum Pelti, Rildo Ananda Anwar, mengatakan tim putra belum bisa melaksanakan Pelatnas karena sebagian atlet masih tertahan di daerah masing-masing.

    "Kami sudah mulai latihan pekan ini dan melakukan kompetisi internal saja. Ya ini dilakukan antara pemain saja tapi khusus putri. Semua ada enam petenis putri," ucap Rildo saat dihubungi Kamis, 18 Juni 2020.

    Menurut dia, petenis putri secara penampilan masih konsisten. Rildo menjelaskan Beatrice Gumulya dan rekan-rekannya tetap menjaga pola main selama pembatasan sosial skala besardan latihan mandiri baik di tempat tinggalnya maupun di Pantai Indah Kapuk yang sempat dijadikan tempat berlatih.

    "Jadi pola main mereka masih bagus dan tidak menurun sama sekali," ungkap Rildo

    Saat memasuki masa transisi PSBB, Pelti mengajukan izin penggunaan lapangan tenis kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kempora) dan Pusat Pengelolaan Komplek Gelora Bung Karno (PPK GBK) untuk melanjutkan proses Pelatnas tenis.

    Rildo menegaskan selama menjalani latihan, tim tenis putri menerapkan protokol kesehatan seperti cuci tangan baik saat jeda maupun usai latihan. Begitu pula saat penggunaan handuk untuk mengelap keringat, mereka diminta untuk mencuci tangan lebih dulu.

    "Jadi sebisa mungkin harus bersih. Kami masuk GBK pun dicek dulu suhu tubuhnya. Setelah itu, kami menggunakan aturan dari protokol kami sendiri," kata dia.

    Terkait rencana untuk menggelar turnamen atau kompetisi, Rildo mengatakan, Pelti masih terus berkomunikasi dengan Federasi Tenis Internasional (ITF) dan pemerintah. Selain itu juga ada evaluasi di internal induk cabang olahraga tenis.

    "Nanti kami lihat jika sudah memungkinkan. Karena ada aturan dari pemerintah soal menghindari penonton dalam jumlah besar. Tenis memang risikonya paling kecil karena tidak kontak badan, jaraknya tetap jauh. Kami tunggu regulasinya saja. Kami juga harus berkoordinasi dengan ITF. Apakah ada pertandingan yang kami mulai karena sudah mulai masuk poin," ucap dia. 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?