Andy Murray Anggap Jadwal ATP Tour Tidak Aman untuk Para Pemain

Reporter:
Editor:

Arkhelaus Wisnu Triyogo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Andy Murray. AP/Petr David Josek

    Andy Murray. AP/Petr David Josek

    TEMPO.CO, Jakarta - Pemegang tiga gelar Grand Slam, Andy Murray, menilai bahwa kalender jadwal ATP Tour yang direvisi masih tidak aman bagi para pemain. Menurut dia, masih ada agenda yang terlampau padat dan dipaksakan dengan adanya tujuh turnamen hanya dalam beberapa pekan hingga akhir tahun.

    Turnamen ATP, yang ditangguhkan pada bulan Maret karena wabah virus corona, akan dimulai kembali pada 14 Agustus dengan Citi Open. Turnamen itu diikuti Cincinnati Masters yang akan diadakan di Flushing Meadows sebelum US Open.

    Sementara untuk turnamen lapangan tanah liat akan dimulai pada 8 September di Kitzbuhel, Austria. Turnamen itu diikuti oleh turnamen Masters di Madrid pada 13 September dan Rome Masters pada 20 September. French Open digelar satu pekan kemudian.

    "Jadwal itu tidak aman bagi para pemain untuk pergi dari semifinal atau final di New York, kemudian ke di Madrid ketika mereka belum berkompetisi untuk waktu yang lama. Anda berpotensi tidak bertemu banyak petenis top yang tidak bersaing di acara besar," kata Murray dalam laporan Reuters, Senin, 29 Juni 2020.

    Pemain asal Inggris berusia 33 tahun itu mengatakan, dengan agenda mendatang yang padat maka perlu dilakukan perubahan cepat sehubungan dengan poin dan peringkat pemain. Murray berencana akan melewatkan turnamen di Cincinnati demi melakukan persiapan agar bisa mengikuti Grand Slam di Amerika Serikat.

    Murray sendiri, untuk pertama kalinya, kembali ke lapangan di turnamen amal pekan ini setelah absen selama tujuh bulan akibat cedera. "Saya lebih suka bermain di Washington dan melewatkan agenda di pekan sebelumnya," kata dia soal targetnya mengikuti US Open.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setelah Wabah Virus Corona, Pemerintah Kini Waspadai Flu Babi

    Di tengah wabah virus corona, pemerintah Indonesia kini mewaspadai temuan strain baru flu babi. Flu itu pertama kali disinggung pada 29 Juni 2020.