Gubernur Koike Bertekat Olimpiade Tokyo Tetap Digelar Tahun Depan

Reporter:
Editor:

Yudono Yanuar

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Atlet dayung nomor rowing La Memo (kiri) berlatih dalam Pelatnas Dayung di Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Selasa 16 Juni 2020. Pengurus Besar Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PB Podsi) tetap menjalankan program pelatihan nasional (pelatnas) di tengah pandemi COVID-19 untuk menjaga kondisi para atlet sehingga target meningkatkan prestasi dalam Sea Games 2021 Vietnam dan mengamankan perwakilan dayung Indonesia dalam Olimpiade Tokyo dapat tercapai.  ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

    Atlet dayung nomor rowing La Memo (kiri) berlatih dalam Pelatnas Dayung di Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, Selasa 16 Juni 2020. Pengurus Besar Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia (PB Podsi) tetap menjalankan program pelatihan nasional (pelatnas) di tengah pandemi COVID-19 untuk menjaga kondisi para atlet sehingga target meningkatkan prestasi dalam Sea Games 2021 Vietnam dan mengamankan perwakilan dayung Indonesia dalam Olimpiade Tokyo dapat tercapai. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

    TEMPO.CO, JakartaGubernur Tokyo Yuriko Koike bertekat tetap menggelar Olimpiade Tokyo tahun depan, meskipun banyak yang meragukan wabah corona sudah bisa diatasi saat itu.

    Olimpiade 2020 seharusnya dimulai bulan ini, namun ditunda selama satu tahun karena pandemi. Sikap Koike tersebut sesuai janjinya untuk memenangkan dukungan publik pada pelaksanaan Olimpiade, meskipun survei media menunjukkan mayoritas warga Tokyo mempertimbangkan penundaan lebih lama atau bahkan pembatalan.

    "Saya ingin Tokyo menjadi tuan rumah sebagai simbol warga dunia yang bekerja sama mengatasi situasi sulit ini dan adanya ikatan yang kuat di antara umat manusia," kata Koike kepada Reuters, Senin, 13 Juli 2020.

    Kendati optimistis, namun dia menolak untuk menentukan tenggat waktu untuk mengeluarkan keputusan bisa atau tidaknya Olimpiade Tokyo dilanjutkan.

    "Saya ingin melindungi nyawa dan kesehatan masyarakat Tokyo dengan membahas kebijakan untuk menangani virus corona. Itu adalah misi terbesar saya," kata Koike.

    Sebelumnya, pakar kesehatan Jepang memperingatkan potensi munculnya penambahan jumlah penderita COVID-19 jika acara tersebut tetap dilaksanakan.

    Dengan sisa waktu hanya satu tahun dan belum adanya vaksin untuk mengatasi wabah corona, dikhawatirkan hanya akan ada sedikit orang yang memiliki antibodi.

    "Infeksi akan terjadi terus jika kita tetap bersikukuh melaksanakan Olimpiade. Tidak ada keraguan tentang itu," kata Daiichi Morii, seorang dokter di tim pengendalian infeksi Rumah Sakit Universitas Osaka.

    Keberhasilan Jepang dalam mengatasi virus adalah bagian dari alasannya. Sebuah survei pemerintah baru-baru ini menunjukkan hanya 0,1 persen penduduk Tokyo yang memiliki antibodi virus corona. Itu jauh lebih rendah dari 14 persen di negara bagian New York pada bulan April, dan tujuh persen di Stockholm.

    Kondisi ini membuat ilmuwan dan ahli medis prihatin tentang prediksi keadaan di musim panas mendatang atau pada pelaksanaan olimpiade yang dijadwalkan ulang.

    "Virus ini hampir tidak terkendali meskipun pemerintah menghentikan arus masuk orang dari luar negeri. Dengan pelaksanaan ajang seperti Olimpiade, virus pasti akan masuk dan jumlah infeksi akan meningkat tak terelakkan," kata Morii.

    Sebuah survei di Tokyo yang dilakukan harian Asahi Shinbun akhir bulan lalu menunjukkan bahwa 59 persen koresponden berharap Olimpiade dibatalkan atau ditunda lagi. Hal ini menekankan adanya kekhawatiran publik pada pandemi yang masih terjadi.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Angin Prayitno Aji dan Tiga Perusahaan yang Diperiksa KPK dalam Kasus Suap Pajak

    Angin Prayitno Aji dan Dadan Ramdani ditetapkan KPK sebagai tersangka kasus suap pajak. Dari 165 perusahaan, 3 sedang diperiksa atas dugaan kasus itu.