DPR Kritik Rencana Naturalisasi Pemain Brasil Menjelang Piala Dunia U-20

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penjaga gawang tim nasional Indonesia U-19, Adi Satrio dan Erlangga Setyo saat menjalani latihan di Stadion Madya, Kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis, 20 Agustus 2020. Timnas Indonesia U-19 sedang menjalani pemusatan latihan untuk persiapan tampil di Piala Asia U-19 2020 pada 14-31 Oktober mendatang. Skuat Merah Putih tergabung di Grup A bersama tuan rumah Uzbekistan, Iran, dan Kamboja. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Penjaga gawang tim nasional Indonesia U-19, Adi Satrio dan Erlangga Setyo saat menjalani latihan di Stadion Madya, Kompleks Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Kamis, 20 Agustus 2020. Timnas Indonesia U-19 sedang menjalani pemusatan latihan untuk persiapan tampil di Piala Asia U-19 2020 pada 14-31 Oktober mendatang. Skuat Merah Putih tergabung di Grup A bersama tuan rumah Uzbekistan, Iran, dan Kamboja. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta- Dewan Perwakilan Rakyat mengkritik rencana PSSI melakukan naturilisasi pemain besar-besaran menjelang perhelatan Piala Dunia U-20 2021. Ketua Komisi X DPR RI Syaiful Huda mengatakan langkah itu hanya cara instan meraih prestasi dan tidak menyelesaikan akar persoalan pembinaan sepak bola di tanah air.
     
     
    “Rencana naturilisasi pemain besar-besaran agar berprestasi di Piala Dunia U-20 sangat bertentangan dengan filosofi pembinaan olah raga prestasi di Indonesia. Langkah itu ibarat jalan pintas yang belum tentu menghasilkan prestasi yang diidamkan,” ujar Syaiful Huda saat dihubungi, Sabtu, 22 Agustus 2020.
     
    Syaiful menjelaskan keinginan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) dan PSSI untuk berprestasi di Piala Dunia U-20 tentu wajar. Apalagi Indonesia bakal menjadi tuan rumah. Hanya saja, kata dia,  langkah naturalisasi tersebut akan lebih banyak memberikan dampak negatif bagi perkembangan sepak bola Indonesia di masa depan. “Untuk jangka pendek, naturalisasi pemain bisa jadi cara cepat cetak prestasi. Kendati demikian pada jangkah menengah dan Panjang, naturalisasi pemain ini hanya memunculkan banyak dampak negatif,” kata dia.
     
    Syaiful mengungkapkan beberapa dampak negatif dari proses naturalisasi pemain ini di antaranya adalah terpuruknya mental para pemain muda di Indonesia. Para pemain muda Indonesia akan merasa tidak dihargai oleh pemerintah dan federasi meski mereka telah berlatih sejak usia dini.
     
    “Bayangkan saja bagaimana perasaan para pemain muda kita saat tiba-tiba mereka harus bersaing dengan para pemain dari negara yang kultur sepak bolanya lebih mapan. Terlebih mereka tahu jika para pemain dari negara lain tersebut mendapatkan berbagai fasilitas dari federasi baik secara langsung maupun tak langsung,” ujar dia.
     
    Dampak negatif lain dari naturalisasi pemain, Huda melanjutkan, adalah sia-sianya pembinaan pemain usia dini. Betapa tidak ratusan klub-klub di Indonesia diimbau bahkan diwajibkan untuk mempunyai tim muda. Ribuan sekolah sepak bola (SSB) juga berlomba untuk mencetak pemain andal. Berbagai kejuaraan kelompok umur juga secara rutin dilakukan. “Betapa besar biaya untuk melakukan semua itu. Namun saat ada kebutuhan untuk membentuk tim nasional, tiba-tiba pemerintah dan federasi lebih memilih melakukan naturalisasi pemain. Ini kan sangat ironis,” kata dia.
     
    Politikus PKB itu juga menilai naturalisasi pemain ini hanya akan menutupi akar masalah pembinaan sepak bola di tanah air. Sudah menjadi rahasia umum jika ada yang bermasalah dalam konsolidasi pembinaan sepak bola di Indonesia, mulai dari kurikulum pembinaan yang tak seragam, laju kompetisi yang kerap terhenti, hingga rumor dikuasainya saham klub-klub Liga I di Indonesia oleh individu atau kelompok tertentu.
     
    “Faktor-faktor tersebut membuat pembinaan sepak bola Indonesia kerap kehilangan arah sehingga tidak mampu menghasilkan prestasi yang membanggakan meskipun di tingkat Asia Tenggara. Tetapi kendala-kendala tersebut harusnya diurai, bukan ditutupi dengan melakukan naturalisasi pemain untuk menghasilkan prestasi instan,” katanya.
     
    Wacana naturalisasi besar-besaran pemain ini tampak dari langkah sejumlah klub sepak bola ternama di tanah air mendatangkan para pemain dari Brasil. Saat ini dua klub yakni Persija Jakarta dan Arema FC telah mendatangkan masing-masing dua pemain dari negeri Samba. Langkah ini segera diikuti Madura United.
     
    Dalam sebuah kesempatan di Juli 2020, Ketua Umum PSSI Iwan Bule menyatakan jika opsi naturalisasi pemain sangat mungkin dilakukan, hanya saja naturalisasi itu bisa dilakukan melalui tingkat klub. “Beberapa klub ada yang melakukan naturalisasi. Kalau nantinya bisa dipakai (Timnas Indonesia) kan bagus. Kita bisa bantu percepatan perpindahan kewarganegaraannya," ujar Iwan Bule saat menjadi narasumber webinar di salah satu media nasional.
     
    IRSYAN HASYIM
     

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Waspadai Komplikasi Darah Akibat Covid-19

    Komplikasi darah juga dapat muncul pasca terinfeksi Covid-19. Lakukan pemeriksaan preventif, bahan ketiksa sudah sembuh.