Di Tengah Pandemi Covid-19, NOC Indonesia Cari Solusi Program Latihan Sehat

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Raja Sapta Oktohari berpose di kantornya di Senayan, Jakarta, Kamis 16 Juli 2020. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

    Ketua Umum Komite Olimpiade Indonesia (KOI) Raja Sapta Oktohari berpose di kantornya di Senayan, Jakarta, Kamis 16 Juli 2020. ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

    TEMPO.CO, Jakarta - Komite Olimpiade Nasional (NOC) Indonesia dalam sebuah sesi diskusi virtual menyampaikan perlunya solusi efektif agar program latihan atlet bisa tetap berjalan secara sehat meski di tengah pandemi Covid-19.

    Ketua Umum NOC Indonesia Raja Sapta Oktohari mengatakan, dalam situasi pandemi yang memaksa seluruh kegiatan berhenti, diperlukan panduan serta aturan yang merujuk pada regulasi yang dikeluarkan oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC) serta federasi olahraga internasional.

    "Setiap cabang olahraga punya karakter tersendiri sehingga punya penanganan atau standar yang berbeda. Kami berusaha terus meningkatkan prestasi di tengah pandemi yang masih berlangsung," kata Okto dalam keterangan tertulisnya yang diterima Antara di Jakarta, Rabu, 7 Oktober 2020.

    Menaldi Rasmin, yang menjadi salah satu sumber dalam diskusi tersebut, menyampaikan bahwa tantangan besar ada pada olahraga beregu dan lokasi yang potensial terjadinya penyebaran yaitu di dalam ruang tertutup. Karena itu, menurut dia, yang harus dilakukan adalah memutus rantai penularan dengan pemeliharaan dan penjaminan kesehatan untuk seluruh ofisial dan atlet.

    "Vaksin dan obat bukanlah solusi. Kita harus memutus rantai penularan. Bagaimana caranya? Dengan pemeriksaan berkala dan sesaat, deteksi dini, pengobatan, pemulihan, dan penelusuran," katanya.

    Sementara narasumber lainnya, Hananto Andriantoro, mengatakan pandemi Covid-19 memang mengharuskan para atlet menghentikan latihan dengan intensitas tinggi karena mengakibatkan turunnya imunitas sesaat. Ia merekomendasikan perlunya kebijakan kesehatan yang dikembangkan oleh para dokter dari berbagai disiplin serta pelatih.

    Olahraga beregu yang dilakukan di dalam ruang tertutup memiliki risiko penularan yang lebih besar, karena itu perlu perencanaan matang untuk menurunkan risiko pada atlet dan juga orang lain. Screening gejala, manajemen latihan, pembatasan jumlah personel yang terlibat, dan pembersihan alat latihan secara berkala menjadi hal-hal yang direkomendasikan.

    Untuk lapangan olahraga dalam ruang tertutup, dia merekomendasikan ada ventilasi intensitas tinggi, penggunaan filter udara efisiensi tinggi, serta akses terhadap APD darurat dan tenaga medis.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sah Tidak Sah Bitcoin sebagai Alat Pembayaran yang di Indonesia

    Bitcoin menjadi perbincangan publik setelah Tesla, perusahaan milik Elon Musk, membeli aset uang kripto itu. Bagaimana keabsahan Bitcoin di Indonesia?