Sofia Kenin, Finalis French Open 2020 yang Menyebut Diri Sang Pemecah Masalah

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sofia Kenin. REUTERS/Charles Platiau

    Sofia Kenin. REUTERS/Charles Platiau

    TEMPO.CO, Jakarta - Sofia Kenin, petenis Amerika Serikat berusia 21 tahun, menyebut dirinya sendiri sebagai pemecah masalah. Keunggulan itu pula yang akan menjadi bekalnya saat menghadapi Iga Swiatek, petenis Polandia berusia 19 tahun, di final French Open Sabtu malam, 10 Oktober.

    Kualitas sebagai "pemecah masalah" sudah ia buktikan dengan keberhasilan lolos ke final. Dalam turnamen tanah liat di Roma, yang menjadi pemanasan Prancis Terbuka ini, ia dipermalukan Victoria Azarenka dengan skor 6-0 6-0.

    Ia tak lantas putus harapan. Kenin memilih menganalisis diri sendiri, juga lawan. Dan itu berbuah manis. Kamis waktu setempat, di semifinal, ia mengalahkan Petra Kvitova, asal Republik Cek, dengan skor 6-4 7-5. Ia melaju ke final dan berpalung merebut gelar grand slam keduanya setelah Australia Open 2020.

    "Pastinya, saya seorang pemecah masalah," kata Kenin seusai laga semifinal itu, seperti dikutip Reuters.

    "Anda jelas harus mengantisipasi situasi sulit. Ini pertandingan tenis. Anda tahu lawan Anda ingin menang. Mereka ingin menemukan kelemahan Anda. Tentu saja, Anda harus pintar."

    Kenin mementahkan semua serangan Kvitova. Ia tampil matang di lapangan tanah liat diakuinya masih menjadi sedikit teka-teki.

    "Di level junior, tanah liat bukanlah lapangan terkuat bagi saya. Saya merasa kurang bertenaga. Saya tidak bisa mengontrol poin. Saya tidak memiliki pergerakan yang bagus. Itu sedikit perjuangan," kata dia, yang menjadi unggulan keempat di turnamen itu.

    Sofia Kenin. REUTERS/Charles Platiau

    Ia tak larut dalam kecewa setelah kekalahan memalukan di Roma. "Saya tidak mendapatkan hasil terbaik di Roma. Tapi saya tahu bahwa hanya perlu beberapa pertandingan untuk mendapatkan alur yang bagus. Saya tahu bagaimana menyesuaikan diri dengan permukaan lapangan. Jadi kini saya menyukai tanah liat. "

    Chris Evert, mantan petenis asal Amerika yang pernah menjuarai Prancis Terbuka tujuh kali, menilai Kenin bermain dengan rasa lapar dan intensitas energi tinggi saat melawan Kvitova.

    Kenin mengakui keberhasilan meraih gelar grand slam pertamanya, di Australia, Februari tahun ini, sangat berpengaruh terhadap performanya.

    "Saya benar-benar merasa telah meningkat sejak Australia. Saya merasa telah menemukan alur pas. Saya menikmati bermain di lapangan tanah liat. Saya memiliki kepercayaan diri yang tinggi," kata dia.

    Kenin kini bersiap menghadapi Iga Swiatek di final yang akan berlangsung Sabtu mulai 20.00 WIB. Keduanya pernah bertemu di babak ketiga Prancis Terbuka Junior pada 2016. Kala itu Swiatek menang dalam dua set langsung.

    Baca Juga: Duel Dua Wonderkid di Final French Open 2020

    "Sayaharus memikirkan apa yang dia lakukan," kata Kenin. "Saya yakin dia sangat percaya diri dan sangat bersemangat untuk final."

    "Saya jelas ingin membuat langkah berikutnya. Benar-benar ingin merebut gelar. Kita akan lihat bagaimana hasilnya pada hari Sabtu."

    Sofia Kenin
    Usia: 21 tahun
    Asal: Amerika Serikat
    Ranking: 6 dunia.

    Jejak di Grand Slam
    2015: babak 1 US Open
    2016: babak 1 US Open
    2017: babak 3 US Open
    2018: babak 1 Australia Open, babak1 French Open, babak 2 Wimbledon, babak 3 US Open
    2019: babak 2 Australia Open, babak 4 French Open, babak 2 Wimbledon, babak 3 US Open.
    2020: Juara Australia Open, babak 4 US Open.

    REUTERS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.